mungkin seniman
May 24th, 2008 by nourisWalaupun sudah banyak posting di wordpress, rasanya memang beda dengan menulis di friendster. Soulnya beda. Akhirnya, saya putuskan lagi menulis di sini.
Saya kebetulan punya kenalan di Blok M, namanya Mr. Seniman, sebut saja demikian, karena seniman itu tidak penting nama, yang penting karya–katanya. Pekerjaannya tiap hari adalah melukis potret. Hasil karyanya jangan ditanya, memang sebetapun detailnya lukisan tidak akan sanggup mengalahkan fotografi, namun lukisannya memang indah. Lukisannya tidak kehilangan chemistry orang yang ada dalam potret.
Satu dukungan penting darinya, telah saya katakan di awal; seni itu yang penting karyanya. Intinya pada karya. Kalau karyanya indah, puas rasanya. Seniman bekerja untuk hasil karya, perihal nanti terkenal atau tidak, itu terserah dunia.
Ini begitu sulit sebenarnya. Manusia tetap saja punya keinginan menggebu-gebu untuk diakui. Saya dulu pernah punya pengalaman pahit (untuk saya yang masih kelas dua SMA waktu itu); karya saya diakui oleh orang lain. Ceritanya, saya dapat juara dua tingkat propinsi untuk lomba poster anti narkoba. Begitu senang rasanya memberikan tropi untuk sekolah; biarpun hanya juara dua dan bukan di bidang sains. Setidaknya saya telah berbuat sesuatu untuk sekolah saya.
Biasanya, tiap hari Senin sehabis upacara bendera, ada saja pengumuman prestasi dari siswa-siswi yang memenangi beragam lomba dan kompetisi. Senin itu, lomba yang saya ikuti juga diumumkan, di samping lomba-lomba lainnya. Saya kaget, karena tropi yang sempat menghiasi meja belajar saya diatasnamakan kepada siswa lain. Siswa lain itu pun dengan tidak ada rasa bersalah, maju ke depan disertai tepukan tangan meriah. Sakit hati rasanya.
Saya bukannya mau dan senang maju ke depan dan penuh rasa bangga. Tidak. Saya bukanlah tipe seperti itu. Tapi, bukankah itu adalah hak saya? Bukankah itu adalah jerih payah saya, biarpun tidak seberapa, yang bisa saya berikan?
Sejak itu; saya jadi muak dengan penghargaan orang. Yang penting karya saya berguna itu saja. Sekarang; kalau diminta tolong oleh teman2 untuk bikin desain apa saja, saya tidak pernah memberikan embel-embel nama di dalamnya, kecuali inisial yang hanya saya dan beberapa kawan yang tahu. Hanya ada dua ciri; inisial itu, atau warna merah-hitam. Saya tidak perlu memberikan inisial kalau warnanya merah-hitam. Warna yang "saya sekali".
"Yang penting karya", kata Mr Seniman. "Kalau karya kita bagus, penuh seni, orang akan menghargainya". "Kalau kau meninggal, orang-orang yang akan menelusuri karyamu, dan menemukan masterpiece dari rasa dan karsa kamu".
Ya, ya, nikmat memang bila karya kita disukai orang tanpa melihat siapa yang membuatnya. Senang rasanya melihat orang-orang itu tertarik dengan karya kita tanpa tahu siapa yang membuatnya.
Itu dia Mr Seniman, orang yang kembali mengingatkan saya. Orang yang penuh keanehan; rambut gondrong tapi gampang trenyuh; tampang preman tapi suaranya lembut; jadi pelukis yang penghasilannya tidak seberapa tapi tetap punya istri, tetap punya anak untuk di sekolahkan.
Kalimongso, 24 Mei 2008
Sedang menulis tugas akhir. Judulnya, "Evaluasi Laporan Keuangan Pemda Dompu". Semoga bisa bermanfaat buat kampung halaman.