i miss u
Friday, February 10th, 2006
(catatan 1 Des 2k5)
Saat itu sy belum bisa mengingat apa2, so kondisi Mama saat sy dlahirkan g
bisa sy ceritakan dalam point of view
orang pertama atw bahkan orang ketiga, wong
saat itu mata ini belum bisa melihat apa2. Tapi dari cerita Mama sendiri, sy
adalah anaknya yang paling membuat Mama “menderita” saat masih hidup dalam
perutnya, juga dalam menit2 yang kehidupan dan kematian hanya dipisahkan oleh
dinding yang begitu tipis, berjuta-juta lebih tipis dari kulit air. Saat bulan
ke delapan, sy ingin cepat2 melihat dunia saja, sampai2 beberapa kali Mama dibawa k rumah sakit.
Klimaksnya adalah saat bulan 9 lewat beberapa hari, yang sungguh kata Mama
kelahiranku g bisa dilukiskan dengan kata2…
Sebuah pengorbanan yang begitu besar, yang sungguh di luar logika
perhitungan untung rugi, pun tak bisa dijelaskan dari teori ekonomi manapun.
Tapi hal ini tidak begitu jauh bila
dikait2kan sm ilmu ekonomi. Seperti hapalan luar kepala saat2 smp dan sma dulu,”.. prinsip ekonomi berbunyi: dengan
menggunakan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untk memperoleh kepuasan
sebesar-besarnya..” Jika pengorbanan adalah sakit yang dialami Mama saat sy
dilahirkan, serta nilai kepuasan adalah sy, maka cocok bukan? Atw, pernyataan
sepeti ini: “..Semakin besar nilai kepuasan
yang bisa diperoleh dari satu barang/jasa, makin besar pula penorbanan yang
harus diberikan..(Sadono Soekirno,2002)”.
Bila dimisalkan barang/jasa adalah sy, nilai barang/jasa adalah harapan ortu
terhadap sy, dan pengorbanan adalah sakit yang sangat dirasakan Mama, maka
semakin cocok, bukan?
Tapi yang cocok hanya variabelnya saja, dengan teorinya
bahkan bertolak belakang, apalagi dengan prinsip ekonomi yang masih diragukan
keabsahannya sampai sekarang (yang kata Bob Sadino sungguh di luar akal
sehat—mendapatkan hasil yang besar dengan pengorbanan yang kecil). Dalam
ekonomi pengorbanan diusahakan dlm tingkat yang minimum demi memperoleh
kepuasan yang maksimal. Pengorbanan itu diharapkan membawa untung, jangan
sampai rugi. Hal inilah yang membuat tidak
cocok…Orang tua tidaklah berkedudukan seperti pembeli atw penjual barang
di pasar yang mencari untung dan menghindari rugi. Ortu malah mengorbankan semaksimal mungkin demi anak-anak mereka.
Ortu g butuh balas budi materi. Anak-anak mereka memperoleh kepuasan maksimal,
itu sudah cukup..(nah lho)
Dalam kasus ekonomi manapun, tak ada penyedia dana yang terus menerus
mengucurkan bantuan tanpa ada pelunasan sedikit pun (apalagi sampai 18 tahun).
Kalaupun ada kreditur bagi Indonesia yang menangguhkan utang, tapi tetap saja
bunganya mesti dibayar berkala. Kalaupun ada yang g perlu bayar bunga seperti
bank syariah, tetap saja ada pengembalian utang n bagi hasil untung atw rugi.
Tapi sy, g tuh..G ada tagihan untuk membayar ataupun mencicil apa yang telah sy
peroleh dari mereka. Tak ada penyinggungan sama sekali tentang apa2 yang telah
mereka berikan selama ini. Juga g ada bagi hasil yang mereka harapkan. Semua
gratis dan sudah termasuk pajak. Uang makan gratis, pulsa gratis, uang kos
gratis, tiket bus bwt mudik juga gratis ( g bisa disebutkan 1 1) dan yang paling penting–doa dari mereka
pun gratis…
Tapi, selama ini, sudahkah sy mendoakan Mama dan Bapak sepenuh hati,
seakan-akan tak ada lagi kesempatan bagi saya untuk melakukannya? Sudahkah sy
mencium tangan keduanya, memeluk keduanya dengan penuh kehangatan, seakan-akan
tak ada lagi kesempatan untuk melakukannya?
(10:15 pm, saya sangat rindu mereka)