Archive for June, 2006

06/06/06 06:06:06

Tuesday, June 6th, 2006

“Dia selalu pergi meninggalkan kita

Hanya masalahnya

Seperti apakah dia pergi?

Seperti sebatang lilin yang meleleh karena api

yang menerangi

Ataukah seperti

sebongkah kecil es yang meleleh karena matahari

Lalu menguap sepi”

 

Sebuah kombinasi waktu yang unik
terjadi tadi pagi: jam enam menit keenam detik keenam pada hari keenam di bulan
keenam tahun dua ribu enam. Istimewanya?

 Tak ada hitungan mundur untuk
kejadian ini. Tak ada acara2 meriah menyambut detik-detik tadi. Tak ada tiupan
riuh rendah terompet tadi pagi. Setidaknya hal2 itu yang tidak saya lihat di
kos-kosan saya. Mungkin juga di seluruh dunia, yang seharusnya sudah
diberitakan di tv2—dan ternyata memang tak terekam ada yang merayakan.

 Setiap detik saya pikir sama2 benar2
berarti. Buktinya, mana yang lebih menarik kombinasi 01/01/06 ataukah 06/06/06? Dari kombinasi angkanya, tentu yang unik adalah
yang 06/06/06. Lalu, kenapa
yang 06/06/06 ini tak
dirayakan? Pertanyaan tak penting  memang. Tentu saja jawabannya,
dirayakan atau tidak sebuah hari tergantung arti penting dari hari tersebut. 01/01/06 tentu dirayakan—sampai
besar2an—karena hari itu adalah awal dimulainya tahun baru. Buat para pebisnis
dan pemerintah, 01/01/06 adalah awal dimulainya tahun anggaran baru. Buat masyarakat, 01/01/06 adalah libur nasional. Wajar
meriah. Lalu, 06/06/06?
Paling2 yang merayakan hanya orang2 yang lahir di tanggal ini. Agak lebih
terasa pentingnya, mungkin untuk mengenang bapak proklamator kita—Bung Karno—yang
lahir 105 tahun yang lalu. Selebihnya,06/06/06 mungkin diistimewakan oleh orang2 yang menganggap tanggal ini keramat.

 Tapi bukankah 06/06/06 adalah setahun dari 06/06/05? Seperti halnya 01/01/06adalah setahun dari 01/01/05. Jadi 06/06/06 bisa saja dianggap tahun baru. Artinya
semua tanggal bisa dianggap sebagai tahun baru. Tapi kenapa sering kali kita
mengabaikan tanggal2 ini? Maksud saya, seperti sekarang, kita terasa kurang
afdal bila intropeksi diri tidak dilakukan di malam tahun baru. Terasa kurang
afdal bila melakukan sebuah rencana tanpa menunggu tahun baru. Terasa kurang
afdal bila menjadi diri yang baru, yang lebih bersemangat, yang lebih rajin,
yang lebih baik, tanpa menunggu tahun baru.

Artinya, sering kali tak ada
penghargaan untuk waktu. Seakan-akan, hanya sepotong2 saja waktu yang berarti.
Seperti hitungan mundur menyambut 00:00:00 di malam tahun baru. Seakan-akan detik 23:59:50 sampai 23:59:59 tak ada artinya.
Hanya untuk dilewati begitu saja. Padahal, tanyakan saja berartinya satu detik
pada pengguna warnet yang billingnya
dihitung perjam, lewat satu detik saja bisa rugi 3600 perak.

Padahal, bila ada satu permintaan
yang ditawarkan kepada manusia, yang akan dikabulkan, sebagian besar akan
meminta untuk dikembalikan waktu2 yang telah hilang. Agar bisa kumpul kembali
sama teman2, agar bertemu lagi dengan orang2 tersayang, agar kejadiannya tidak
menjadi seperti ini, agar tidak memilih pilihan yang salah. Dan yang lebih
penting adalah agar waktu tadi digunakan sebaik-baiknya. Agar tidak pergi
begitu saja, seperti harta yang dicuri tanpa diri sadari.
 

Tapi, waktu tak bisa
dikembalikan. Dia melenggang pergi begitu saja. Tak menghiraukan manusia. Tak
peduli saya sudah mandi apa tidak, tiba2 sudah jam 8, jamnya buat kuliahJ.
Tak peduli saya sudah siap apa tidak untuk ikut ujian semester, tiba2 ujian
semester akan dimulai besoknyaJ. Tak peduli saya sudah bangun apa tidak, tiba2 di
masjid sudah iqamat buat sholat shubuh.
 

Ah, waktu memang egois, ataukah
manusia yang egois?

 

Kalimongso 10:54 pm

                                                                                                                  (Waktu tak peduli saya nikmati apa tidak libur uts ini,
tiba2 besok kuliah udah masuk…)