Gerakan Syahwat Merdeka…
Wednesday, August 30th, 2006Sementara itu anak-anak kita
Enam puluh juta banyaknya
Dihantam kekerasan pornografi
Dua ratus ribu website syahwat
Novel dan komik cabul
Dua puluh juta VCD biru
Akibatnya anak SMP yang
menontonnya
Memperkosa anak SD
Pergi ke PSK…
…Dan mereka ini tidak dilindungi
Generasi ini tidak dilindungi”
Itulah sepenggal sajak berjudul Gerakan Syahwat Merdeka dari Taufik
Ismail. Sajak yang ditulis dengan begitu jujur, lugas, dan menjadi cerminan
keadaan anak-anak Indonesia sekarang ini. Keadaan begitu rentannya anak-anak
Indonesia terhadap serangan pornografi dan pornoaksi
yang merajalela di negeri ini.
Saya punya pengalaman menarik mengenai hal ini. Ibu saya adalah seorang
guru di sebuah SD inpres di kampung saya. Suatu hari, dari perbincangan dengan
seorang tamu, beliau bercerita tentang ulah anak didiknya hari itu (biasa
ibu-ibu, setelah urusan inti selesai dibicarakan, obrolan bisa lari
kemana-mana). Beberapa anak didiknya baru saja kena damprat, khas hukuman anak
SD. Sebenarnya masalah seperti ini biasa saja. Sudah sangat sering ibu saya
bercerita tentang kenakalan murid-muridnya, yang ga bikin PR, yang lempar mangga lalu batunya nyasar ke kaca jendela, yang mecahin
pot kembang di teras kelas yang dijadikan tempat main bola, dan yang paling
sering, mandi di sungai kecil belakang sekolah pada jam-jam istirahat. Namun
kali ini terdengar tidak biasa, sedikit serius, bahkan mungkin tidak bisa
dimasukkan dalam daftar kenakalan yang wajar bagi anak usia sekolah dasar.
Beberapa murid tadi kedapatan membawa kartu remi ke sekolah. Sebenarnya,
kalau cuma ini, pihak sekolah ga akan
sampai memanggil orang tua murid. Masalahnya ada pada kartu remi itu sendiri.
Tak ada yang menyangka sebelumnya bahwa pada setiap lembar kartu remi
terdapat gambar (maaf) wanita-wanita
tanpa pakaian.
Kesimpulannya, bahwa begitu mudahnya virus pornografi mauk ke dunia
anak-anak. Bayangkan, kampung saya yang jauh di pelosok pulau Sumbawa sana dengan akses apapun yang serba terbatas (teman-teman saya sering
bertanya, di sana sudah ada tv belum? ‘_’!) bisa disusupi oleh
benda seperti itu. Apalagi di daerah perkotaan yang akses media cetak, TV, dan
internet bisa diperoleh dengan cepat, mudah, dan murah. Sasarannya pun tak
main-main. Langsung menuju target pada sebuah komunitas yang padanya
disandangkan nama mulia yang sarat dengan cita-cita: generasi harapan bangsa.
Lalu apa yang bida diharapkan dari generasi yang mengganti buku-buku bermanfaat
yang mesti dibaca dengan lembar-lembar kartu remi yang merusak imajinasi?
Tentu keadaan setidaknya tidak separah ini bila pemerintah sejak
lama memiliki aturan-aturan yang mengatur tentang pornografi dan pornoaksi.
Berapa sih hukuman bagi pelaku, pembuat, dan pengedar produk pornografi dan
pornoaksi? Apakah sepadan dengan tindak kriminal yang terjadi akibat dua virus
tersebut? Apakah sepadan dengan trauma dan depresi yang dialami oleh seorang gadis
tujuh tahun yang diperkosa tetangganya sendiri yang masih berseragam SMP?
Apakah semua menutup mata pada pengakuan remaja tanggung yang mencabuli teman
sekolahnya, gara-gara menonton acara di TV yang merangsang naluri kelakiannya?
Bagaimana dengan pemuda yang tega hati memperkosa nenek-nenek? Incest yang
dilakukan sampai bertahun-tahun hingga mengakibatkan kehamilan, bagaimana
dengan nasib anaknya? Apakah ada aturan yang (sedikit saja) bisa mencegah
terjadinya kejadian seperti ini?
Playboy euy…
Beberapa waktu lalu publik kita diramaikan dengan pro kontra terhadap
terbitnya majalah PLAYBOY edisi Indonesia(ingat I N D O N E S I A). Ada yang mendukung, acuh tak acuh, dan ada yang
menolak tegas. Secara pribadi, saya masuk ke golongan yang menolak. Terserah deh alasannya untuk sarana informasi,
untuk kemajuan pariwisata (wong
Bali—ikon pariwisata Indonesia—saja menolak kok), atau untuk seni. Buat yang
mendukung atau acuh tak acuh, terserah…
Alasan saya, pertama, kenapa namanya mesti Playboy sih? Siapapun yang
mendengar kata ‘majalah Playboy’, pasti pikirannya langsung tertuju pada
majalah yang isinya gambar-gambar seronok. Jadi meski dengan perubahan apapun,
tetap saja isinya tak jauh-jauh dari situ dan masyarakat sudah mempunyai imej
seperti itu. Ga mungkin kan Playboy nanti berisi tentang cara memelihara
kuskus, merawat kaktus, atau tips-tips sebelum membeli discus (ntar bisa jadi
saingannya Trubus tuh).
Alasan yang kedua, ga ada
jaminan bahwa nantinya majalah itu tidak dijual di sembarang tempat dan kepada
pembeli di bawah umur. Mengenai tidak dijual di sembarang tempat, jangan sampai
terlihat di tempat umum. Ingat yang namanya tempat umum, ada anak-anak, remaja,
dan orang tua yang berhak untuk tidak melihat hal-hal yang mereka tidak ingin
melihat. Ini sama dengan hak merokok dan hak untuk menghirup udara bebas asap
rokok.
Kemudian mengenai pembeli yang di bawah umur. Jangan sampai nanti
anak-anak ikut menenteng majalah itu. Mengerikan bukan, jika nanti AAS, Orbit,
atau Bobo diganti dengan majalah berlambang kelinci berdasi kupu-kupu itu.
Belum lagi tentang isinya. Kalau mengikuti naluri kelakian, saya sih
setuju saja Tapi coba tanyakan pada perempuan-perempuan di sekitar kita,
sahabat kita, tetangga kita, atau (kalau berani) dosen (killer) kita: “Maukah gambar Anda terampang di sana? Yang setiap laki-laki dengan modal tiga puluh
sembilan ribu rupiah (kalau ga salah)
bebas melihat lekuk-lekuk tubuh Anda?” Pasti dijawab: “Ihh, amit-amit deh” atau
bisa saja diteruskan dengan: “Hey kamu, nomor absen kamu berapa?”.
Atau kalau kita tergolong orang yang sudah menuruti hati, tegakah kita
melihat lembaran-lembaran kertas yang seandainya terpampang di sana gambar sahabat-sahabat kita, tetangga-tetangga
kita, atau perempuan-perempuan yang kita
sayangi dan kita cintai?
Atau, bila itu terlalu sulit, tanyakan pada seorang ibu, bagaimana
perasaannya, jika seandainya yang terpampang di sana adalah anak gadisnya yang sangat ia cintai (sebenarnya kalau naluri
ibu, tak peduli anak siapa yang terpampang di sana). Kita tidak akan kuat melihat matanya yang
berkaca-kaca.
Selain Playboy (sebagai salah satu contoh majalah dari puluhan majalah
dan tabloid bergenre sama) lebih parah lagi komik-komik dan novel-novel cabul (yang ga pernah masuk dalam katalog
Perpustakaan Nasional) dengan peredaran sudah benar-benar luas dan masuk ke
segala jenjang usia. Ga bisa kehitung banyaknya
Btw, Playboy kabarnya gimana sekarang?
Sudah lama kabarnya tak terdengar di tv
Graha Satria Kalimongso, 30 Agustus 2006 14.16 WIB
(Hoiii….IP koq belum
keluar-keluar…)