Archive for August, 2006

Gerakan Syahwat Merdeka…

Wednesday, August 30th, 2006

Sementara itu anak-anak kita

Enam puluh juta banyaknya

Dihantam kekerasan pornografi

Dua ratus ribu website syahwat

Novel dan komik cabul

Dua puluh juta VCD biru

Akibatnya anak SMP yang
menontonnya

Memperkosa anak SD

Pergi ke PSK…

…Dan mereka ini tidak dilindungi

Generasi ini tidak dilindungi”

 
Itulah sepenggal sajak berjudul Gerakan Syahwat Merdeka dari Taufik
Ismail. Sajak yang ditulis dengan begitu jujur, lugas, dan menjadi cerminan
keadaan anak-anak Indonesia sekarang ini. Keadaan begitu rentannya anak-anak
Indonesia terhadap serangan pornografi dan pornoaksi
yang merajalela di negeri ini.

Saya punya pengalaman menarik mengenai hal ini. Ibu saya adalah seorang
guru di sebuah SD inpres di kampung saya. Suatu hari, dari perbincangan dengan
seorang tamu, beliau bercerita tentang ulah anak didiknya hari itu (biasa
ibu-ibu, setelah urusan inti selesai dibicarakan, obrolan bisa lari
kemana-mana). Beberapa anak didiknya baru saja kena damprat, khas hukuman anak
SD. Sebenarnya masalah seperti ini biasa saja. Sudah sangat sering ibu saya
bercerita tentang kenakalan murid-muridnya, yang ga bikin PR, yang lempar mangga lalu batunya nyasar ke kaca jendela, yang mecahin
pot kembang di teras kelas yang dijadikan tempat main bola, dan yang paling
sering, mandi di sungai kecil belakang sekolah pada jam-jam istirahat. Namun
kali ini terdengar tidak biasa, sedikit serius, bahkan mungkin tidak bisa
dimasukkan dalam daftar kenakalan yang wajar bagi anak usia sekolah dasar.

Beberapa murid tadi kedapatan membawa kartu remi ke sekolah. Sebenarnya,
kalau cuma ini, pihak sekolah ga akan
sampai memanggil orang tua murid. Masalahnya ada pada kartu remi itu sendiri.
Tak ada yang menyangka sebelumnya bahwa pada setiap lembar kartu remi
terdapat gambar (maaf) wanita-wanita
tanpa pakaian.

Kesimpulannya, bahwa begitu mudahnya virus pornografi mauk ke dunia
anak-anak. Bayangkan, kampung saya yang jauh di pelosok pulau Sumbawa sana dengan akses apapun yang serba terbatas (teman-teman saya sering
bertanya, di sana sudah ada tv belum? ‘_’!) bisa disusupi oleh
benda seperti itu. Apalagi di daerah perkotaan yang akses media cetak, TV, dan
internet bisa diperoleh dengan cepat, mudah, dan murah. Sasarannya pun tak
main-main. Langsung menuju target pada sebuah komunitas yang padanya
disandangkan nama mulia yang sarat dengan cita-cita: generasi harapan bangsa.
Lalu apa yang bida diharapkan dari generasi yang mengganti buku-buku bermanfaat
yang mesti dibaca dengan lembar-lembar kartu remi yang merusak imajinasi?

Tentu keadaan setidaknya tidak separah ini bila pemerintah sejak
lama memiliki aturan-aturan yang mengatur tentang pornografi dan pornoaksi.
Berapa sih hukuman bagi pelaku, pembuat, dan pengedar produk pornografi dan
pornoaksi? Apakah sepadan dengan tindak kriminal yang terjadi akibat dua virus
tersebut? Apakah sepadan dengan trauma dan depresi yang dialami oleh seorang gadis
tujuh tahun yang diperkosa tetangganya sendiri yang masih berseragam SMP?
Apakah semua menutup mata pada pengakuan remaja tanggung yang mencabuli teman
sekolahnya, gara-gara menonton acara di TV yang merangsang naluri kelakiannya?
Bagaimana dengan pemuda yang tega hati memperkosa nenek-nenek? Incest yang
dilakukan sampai bertahun-tahun hingga mengakibatkan kehamilan, bagaimana
dengan nasib anaknya? Apakah ada aturan yang (sedikit saja) bisa mencegah
terjadinya kejadian seperti ini?

Playboy euy…

Beberapa waktu lalu publik kita diramaikan dengan pro kontra terhadap
terbitnya majalah PLAYBOY edisi Indonesia(ingat I N D O N E S I A). Ada yang mendukung, acuh tak acuh, dan ada yang
menolak tegas. Secara pribadi, saya masuk ke golongan yang menolak. Terserah deh alasannya untuk sarana informasi,
untuk kemajuan pariwisata (wong
Bali—ikon pariwisata Indonesia—saja menolak kok), atau untuk seni. Buat yang
mendukung atau acuh tak acuh, terserah…

Alasan saya, pertama, kenapa namanya mesti Playboy sih? Siapapun yang
mendengar kata ‘majalah Playboy’, pasti pikirannya langsung tertuju pada
majalah yang isinya gambar-gambar seronok. Jadi meski dengan perubahan apapun,
tetap saja isinya tak jauh-jauh dari situ dan masyarakat sudah mempunyai imej
seperti itu. Ga mungkin kan Playboy nanti berisi tentang cara memelihara
kuskus, merawat kaktus, atau tips-tips sebelum membeli discus (ntar bisa jadi
saingannya Trubus tuh).

Alasan yang kedua, ga ada
jaminan bahwa nantinya majalah itu tidak dijual di sembarang tempat dan kepada
pembeli di bawah umur. Mengenai tidak dijual di sembarang tempat, jangan sampai
terlihat di tempat umum. Ingat yang namanya tempat umum, ada anak-anak, remaja,
dan orang tua yang berhak untuk tidak melihat hal-hal yang mereka tidak ingin
melihat. Ini sama dengan hak merokok dan hak untuk menghirup udara bebas asap
rokok.

Kemudian mengenai pembeli yang di bawah umur. Jangan sampai nanti
anak-anak ikut menenteng majalah itu. Mengerikan bukan, jika nanti AAS, Orbit,
atau Bobo diganti dengan majalah berlambang kelinci berdasi kupu-kupu itu.

Belum lagi tentang isinya. Kalau mengikuti naluri kelakian, saya sih
setuju saja Tapi coba tanyakan pada perempuan-perempuan di sekitar kita,
sahabat kita, tetangga kita, atau (kalau berani) dosen (killer) kita: “Maukah gambar Anda terampang di sana? Yang setiap laki-laki dengan modal tiga puluh
sembilan ribu rupiah (kalau ga salah)
bebas melihat lekuk-lekuk tubuh Anda?” Pasti dijawab: “Ihh, amit-amit deh” atau
bisa saja diteruskan dengan: “Hey kamu, nomor absen kamu berapa?”.

Atau kalau kita tergolong orang yang sudah menuruti hati, tegakah kita
melihat lembaran-lembaran kertas yang seandainya terpampang di sana gambar sahabat-sahabat kita, tetangga-tetangga
kita, atau  perempuan-perempuan yang kita
sayangi dan kita cintai?

Atau, bila itu terlalu sulit, tanyakan pada seorang ibu, bagaimana
perasaannya, jika seandainya yang terpampang di sana adalah anak gadisnya yang sangat ia cintai (sebenarnya kalau naluri
ibu, tak peduli anak siapa yang terpampang di sana). Kita tidak akan kuat melihat matanya yang
berkaca-kaca. 

Selain Playboy (sebagai salah satu contoh majalah dari puluhan majalah
dan tabloid bergenre sama) lebih parah lagi komik-komik dan novel-novel cabul (yang ga pernah masuk dalam katalog
Perpustakaan Nasional) dengan peredaran sudah benar-benar luas dan masuk ke
segala jenjang usia. Ga bisa kehitung banyaknya 

 
Btw, Playboy kabarnya gimana sekarang?

Sudah lama kabarnya tak terdengar di tv

 

Graha Satria Kalimongso, 30 Agustus 2006 14.16 WIB

(Hoiii….IP koq belum
keluar-keluar…)

 

Magelang (150806-180806)

Monday, August 28th, 2006

Ini kali pertama saya ke Magelang. Syukurlah, meski dengan bermodal
nekat (+duit tentunya), saya sampai juga ke kota itu.

Memang ga ada rencana khusus sebelumnya untuk ke san. Namun berhubung ada tawaran dari Ahmad,
Habibie, Zakiy, Rasyid, dan Salman buat 17-an di Merbabu, tentu tidak akan saya
tolak. Momen seperti ini pasti tidaklah sering, naik gunung dengan teman-teman
‘seperjuangan’ yang bertepatan dengan hari kemerdekaan.

Berhubung saya ada sedikit urusan di kampus yang harus diselesaikan dulu
(meskipun kenyatannya ga benar2 selesai), saya baru berangkat ke Magelang hari
Senin, satu hari setelah Ahmad dkk berangkat lebih dulu. Dan ini baru pertama kalinya saya ke Kutoarjo. Tapi saya pikir ga masalah, setidaknya sampai
di Kutoarjo, karena untuk ke sana tinggal duduk manis di kursi kereta saja.

Dari stasiun Senen, kereta api Progo kelas ekonomi berangkat pukul 9
malam. Sampai di Stasiun Kutoarjo kira-kira jam enam pagi. Perjalanan dari
Senen lumayan makan waktu juga, bisa dihitung kira-kira 9 jam. Syukurnya, saya
dapat tiket duduk, bukan tiket berdiri. Jadi ga terlalu masalah, tergantung
bagaimana cara menikmatinya.

Dan syukurnya lagi, di kereta api, dalam gerbong yang sama, ada
serombongan anak stan juga yang ingin ke Magelang. Dan mereka memperbolehkan saya
ikut serta dalam rombongan mereka. Jadi sampai ke Kutoarjo ga perlu
bingung-bingung, naik apa, lewat mana, dan berapa ongkosnya buat sampai ke
Magelang

Dari Kutoarjo butuh kira-kira dua jam perjalanan bus ke Magelang. Istirahat
(+sholat+makan) sebentar  di rumah Mas
Alex (kakak tingkat, mentor kelas saya, rekan sama-sama di IMMSI, sekaligus
ketua rombongan tadi). Kemudian setelah kira-kira 4 jam, saya langsung ke
kampung Banar, kira-kira 5 KM dari Borobudur,
tempat Ahmad dan kawan kawan.

Malam hari ful istirahat, tidur buat hilangin penat (padahal siangnya
sudah tidur 3 jam-an, tapi memang hawa Magelang benar2 hawa buat tidur,
sejuk-sejuk yang bikin ngantuk), buat persiapan pendakian besok.

Jam dua siang berangkat ke Merbabu. Sampai di kaki Merbabu kira-kira jam
6 sore. Cari pondok buat istirahat (+makan). Yang menarik, pas sholat wudhunya serasa
pakai air ‘kulkas’. Sudah udara gunung yang dingin begitu, airnya dingin pula.

 
Setelah makan (nasi porsi gede+sayur porsi jumbo+telor mata sapi=Rp.
3000,-) kami berangkat kira-kira jam sembilan malam. Jalur pendakian memang
lumayan berat juga, jalannya terus mendaki. Tapi di bandingkan gunung-gunung di
Pulau Jawa, Merbabu masuk ke dalam jajaran gunung yang medan pendakiannya tidak begitu sulit, cocok buat
pemula2 seperti kami.

 
Saya baru tahu, ternyata bulatnya bumi lebih terlihat di atas sana. Dari atas gunung, di atas permukaan awan,
terlihat jelas lengkung cakrawala. Dan gunung-gunung tinggi di sekitar Magelang
seperti Sumbing dan Sindoro, puncaknya terlihat seperti pulau-pulau kecil di
tengah lautan.

 
Tiga puluh menit menjelang tengan malam, kami sampai ke pos II. Dirikan
tenda, dan tidur (mau begadang, badan ga kuat nahan dingin).

Karena ada satu dan lain hal yang amat berbahaya bila kami paksakan,
pendakian kami ga sampai puncak. Sedikit kecewa juga. Tapi, yang terpenting
kami semua selamat dan juga rasa kebersamaan, ramah tamah, kekeluargaan, topo
seliro, gotong royong, saling hormat menghormati, kebanggaan, bela negara, hingga
cinta tanah air dapat kami rasakan sama2.

Di pos 2, udara benar dingin menusuk tulang. Atas pertimbangan itu, kami ga wudhu buat sholat
Subuh. Tayamum saja. Tapi, walau tanpa wudhu, artinya tidak menyentuh air, pas
sholat tetap saja tubuh saya menggigil. Namun entah kenapa, ada perasaan lain
yang bertambah-tambah, yang membuat saya lebih fokus dalam sholat saya.

Ya, ketika di atas gunung ada dua perasaan yang biasanya muncul.
Pertama, lebih merasakan adanya Pencipta. Ini tidaklah berlebihan Ketika di
atas gunung, kekaguman terhadap alam tak akan henti-hentinya kita pikirkan dan
kadang tak sadar keluar menjadi rangkaian ucapan ketakjuban. Melihat jurang,
tebing yang menjulang, pohon-pohon besar, aliran-aliran air, hingga Sumbing dan
Sindoro yang gagah berdiri di kejauhan, akan menghilangkan kesombongan diri.
Bila dibandingkan dengan alam, kita bukanlah apa-apa. Di sanalah orang banyak
tersadar, bahwa manusia benar-benar kecil, tak punya daya apa-apa.

Kedua, mungkin kecintaan terhadap negara, Selalu saja dalam setiap
pendakian, ada merah putih yang dibawa serta. Di akhir pendakian, pada titik
tertinggi yang mampu dicapai, merah putih itu akan di tancapkan, berkibar-kibar
dengan gagahnya. Perasaan apa yang lahir? Sebuah kebanggaan terhadap Indonesia? Kemungkinan besar, itu benar.

Dan kedua hal itulah yang turut kami rasakan saat itu.

Setelah puas menikmati pemandangan alam yang luar biasa indahnya +
upacara bendera, jam 7 pagi kami turun. Perjalanan turun lebih cepat
dibandingkan naik, tapi capeknya mungkin setara. Ketika naik kita menarik
beban, ketika turun kita menahan beban jadi hampir sama rasanya. Kecuali selisih beberapa Nm, karena makanan yang berkurang. Jam 9 lebih
sedikit sampai di basecamp, kemudian turun ke jalan raya. Menunggu bus tuk
pulang ke rumah Ahmad.

Esoknya sebelum meninggalkan Magelang, mampir dulu di Candi Borobudur. Tengok-tengok sikitlah salah satu salah satu
dari tujuh keajaiban dunia itu.

Dan Candi Borobudur memang karya yang luar biasa. Arsitekturnya unik,
perpaduan antara piramida dan stupa. Ukiran dindingnya mendetail (seandainya
saya mengerti apa yang diukirkan di sana, melihatnya mulai dari mana, dan memutarnya ke
arah mana, mungkin saya bisa seharian di sana buat menyelesaikan cerita di dinding-dinding
candi).

Saya pikir ,Gunadharma, memang bukan pilihan yang salah untuk mengarsiteki
candi itu.

Poin2 yang saya catat dari Magelang:

  1. Kotanya ga begitu besar, suasananya saya rasa mirip dengan Mataram
  2. Udaranya sejuk, setidaknya itu yang saya rasakan saat berkunjung kemarin.
  3. Magelang itu bukan nama kota saja, namun juga ada Kabupaten Magelang-nya dengan Mungkid sebagai ibukota kabupaten.
  4. Di sekeliling Magelang, ada beberapa gunung yang tingginya ribuan meter dpl. Bagian timur (perbatasan dengan Kabupaten Boyolali terdapat Gunung Merbabu  (3.141 meter) dan Gunung Merapi (2.911 m). Bagian barat (perbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo) terdapat Gunung Sumbing (3.371 m). Di bagian barat daya terdapat rangkaian Bukit Manoreh, yang terkenal dengan kelezatan duriannya itu.
  5. Di dalam kota ada hutan. Rancangan kota yang bagus. Ada bukit dalam kota  yang biasanya dipakai oleh siswa-siswa  Akademi Militer  (AKMIL memang bermaskas di Magelang). Saya lupa nama bukit itu (ada yang taw?)
  6. Ga ada stasiun kereta api di Magelang. Jadi kalau pakai kereta, turunnya di Sukoarjo,
         Lempuyangan atau Tugu. Baru lanjutkan perjalanan dari sana. Sebenarnya dulu di Magelang terdapat jalur kereta api Semarang-Jogjakarta (termasuk yang tertua di Indonesia) , namun karena letusan Merapi, jalur itu kini ga difungsikan lagi.
  7. Ternyata Progo, kereta api yang saya naiki dari Jakarta, adalah nama sebuah sungai yang biasa dipakai buat arung jeram, yang mengalir di bagian tengan Magelang. Sungai lainnya yang sering dipakai untuk berarung jeram adalah Kali Elo.
  8. Makanan khas Magelang adalah gethuk trio, tape ketan muntilan, wajik salaman, dan salak nglumut magelang (…susah bener diucapin)

Ada tambahan?

Dari Magelang, Jumat (180806) malam langsung cabut ke Jogja, kira -kira  1  1/2 jam  perjalanan dengan bus (cukup rogoh kocek 8000 perak saja).

Nantinya Kamu Golongan Mana?

Monday, August 28th, 2006

Pramoedya Ananta Toer pernah mengangkat tema korupsi dalam salah satu novelnya yang berjudul sama dengan tema: KORUPSI. Novel ini mengisahkan tentang seorang kepala kantor sebuah instansi pemerintah yang pada awalnya—selama berpuluh-puluh tahun—mampu mempertahankan idealismenya. Namun memang, faktor ekonomi: gaji yang kecil, kebutuhan yang semakin banyak dan semakin mahal serta anak-anak yang membutuhkan biaya untuk sekolah, adalah lawan yang sangat sulit untuk dikalahkan.

Pejabat tersebut sebelum melakukan korupsi, digambarkan benar-benar hidup sederhana. Tubuh yang kurus, ke kantor hanya menggunakan sepeda butut, dan rumah yang kamar depannya terpaksa disewakan kepada seorang tauke yang membuka usaha warung. Bayangkan, pejabat ini dengan keluarganya harus berdesak-desakan dalam ruang rumah yang tersisa dan terpaksa menghirup asap yang mengepul dari warung di depan, tiap hari. Agaknya, istri yang benar-benar mau diajak hidup sederhana dan anak-anak yang tidak banyak menuntut menjadi sebab selama ini dia mampu bertahan.

Keadaan berubah 180 derajat setelah korupsi dijadikan jalan keluar (benar kata Ibnu Khaldun(1332-1406), “sebab utama korupsi itu adalah nafsu untuk hidup mewah dalam kelompok yang memerintah”). Sepeda butut berganti jadi sedan mewah, tubuh agak sedikit bersih dan berisi, dan rumah mewah di sebuah kawasan elit. Namun segala pilihan hidup, baik atau buruk, selalu diikuti konsekuensinya, baik atau buruk pula. Bermula dari keluarga yang meninggalkannya, istri muda yang selingkuh, hingga yang paling berat: hati yang selalu resah, takut perbuatannya diketahui. Dan akhir dari kisah pejabat ini begitu pantas, berakhir di balik terali besi. Two thumbs buat Bung Pram!

Lain Bung Pramoedya, lain pula dosen Customs saya bila berbicara tentang korupsi. Entah dapat dari mana, beliau mengklasifikasikan bahwa sifat ke-koruptor-an itu (dengan sampel pejabat di pemerintahan) dibagi menjadi empat golongan:

  1. Golongan (sebut saja) A, yaitu pejabat-pejabat yang benar-benar mempertahankan      idealismenya. Mereka hanya menerima gaji dan tunjangan saja, lain dari itu ditolak. Golongan ini benar-benar ada, ada beberapa rekan dosen saya yang menduduki posisi mulia ini.

  2. Golongan B, yaitu pejabat-pejabat yang belum mampu melawan sistem korup  yang terlampau kuat. Mereka terpaksa menerima duit selain gaji dan tunjangan, namun katanya dengan persentase yang menurun dari tahun ke tahun. Katanya buat memperbaiki sistem (ini katanya lho)

  3. Golongan C, yaitu pejabat yang gak menyiakan kesempatan untuk korupsi. Pokoknya ada kesempatan  korupsi, ambil saja.

  4. Golongan D, yaitu pejabat yang ga peduli ada atau tidak kesempatan untuk korupsi. Kalau ga ada kesempatan, cari dan bikin kesempatan itu. Pokoknya dalam otak mereka hanya korupsi dan korupsi saja.

Pas ditanya ke dosennya, “Bapak golongan mana?”. Dosen saya bilang, “ Terus terang saya masih di golongan B, bukan bermaksud membela diri, sistem korup di negara ini begitu kuat. Sulit menjadi orang jujur”

Benar juga, sistem korup di negara ini begitu kuat. Banyak contoh, tokoh-tokoh yang pada waktu mudanya aktif dalam pergerakan mahasiswa dan LSM-LSM, sekarang terdaftar sebagai koruptor (saya ga mau sebut merek). Siapa yang meragukan kredibilitas mereka, namun setelah masuk sistem, idealisme itu luntur juga.

Korupsi memang sudah membudaya (Bung Hatta). Saking membudayanya, korupsi itu jadi biasa saja, terlampau abu-abu di mata masyarakat buat dideskripasikan itu hitam atau putih. Anda pasti tahu berapa duit yang harus disediain buat masuk pendidikan polisi atau tentara. Anda pasti tahu untuk mengurus SIM atau KTP perlu tambahan biaya berapa agar SIM atau KTP cepat jadinya. Anda pasti tahu berapa rata-rata tarif damai bila kepergok ga pakai helm standar di jalan. Anda pasti tahu adalah hal yang biasa pegawai negeri pulang dua jam lebih awal dari yang ditentukan. Anda pasti memperhatikan bangunan-bangunan sekolah atau jalan umum yang baru setahun sudah retak-retak. Anda pasti tahu nasib supir-supir angkutan yang sering diminta pungli oleh aparat atau preman-preman dari terminal-terminal hingga pelabuhan.

Korupsi itu ibarat cintanya orang bisu, ada, terasa, namun sulit untuk dikatakan.

Anda ingin masuk ke golongan mana?

ah, kau sendiri Ris?

……………….

Tuesday, August 8th, 2006

Sekarang sy jadi kurang semangat nonton berita di teve. Bukan karena bosen sama Chantal Della Conceta, Virgie Baker, Fifi Aleyda Yahya, atawa Najwa Sihab. Tapi ini berkaitan langsung sama isi beritanya. Berita2 yang bikin hati sedih

Semua pasti pada tw apa yang sedang hangat diberitain di tv2 sekarang ini. Ya, tentang agresinya Israel ke tanah Lebanon. Tentang rudal2 yang dijatuhin dari puluhan Fighting Falcon-nya Israel. Tentang korban2 sipil yang jatuh di Lebanon. Tentang rumah, kantor2, dan sekolah2 yang hancur. Tentang kecongkakan Ehud Olmert yang tanpa rasa bersalah merintahin anak buahnya buat hancurin kantong2 Hizbullah, ga peduli di situ ada wanita dan anak2.

Saya miris saja saat mendengarnya.  Lebih miris dibandingin saat mendengar berita rusaknya hutan2 di Papua, tentang Stadion Menteng yang dibongkar, atw tentang kegagalan tim olimpiade matematika berangkat ke Slovenia gara2 Depdiknas telat ngurus visa.

Yang bisa saya tangkap dari berita2 itu, ga lebih dari ketidakpedulian dunia terhadap agresi tersebut. Entah di Rusia, di Perancis sana, di Inggris sana, di China sana, lebih2 di Amrik sana, ga ada yang tw berita ini, atw memang ga ada yang peduli? Sy ga tw. (Tapi ada kabar baik, terakhir sy dengar Rusia bikin resolusi baru, bwt ngehentiin agresinya Israel. Terserah si Amrik sama Prancis yang masih ngotot2an tentang keputusan apa yang  mesti diambil)

Tapi memang percuma ngandelin mereka2 itu. Jangankan mereka, orang2 Indonesia sendiri yang dulu pernah ngerasain yang namanya dijajah (fisik), pernah kena agresi dua kali juga adem2 saja. Cuma sedikit yang peduli. Padahal yang diserang di sana bukan ke satu golongan, kelompok atw satu agama saja. Yang kena rudal bukan pasukan Hisbullah saja, tapi anak2 dan wanita juga. Yang kena bombardir bukan permukiman Muslimin saja, tapi permukiman Kristiani juga.

Saya pikir, kalau Panglima Soedirman, pemimpin gerilyawan kita di masa agresi Belanda dulu, masih hidup, ini orang pasti mengutuk keras apa yang dilakuin Israel di Libanon sana. Jelas saja, beliau tentu sangat paham bagaimana rasanya jadi bangsa merdeka yang diagresi bangsa lain. Beliau tentu paham, begitu sulitnya mengimbangi kekuatan militer lawan yang seakan-akan "menggunakan rudal hanya untuk memecah sebuah balon". Beliau tentu paham, tak ada pilihan lain, kecuali melawan.

Uff, saya  berharap, akan ada berita2 yang menghibur,
saya harap  itu tak kan lama,
…………………….
……………………
………. ya, berita tentang kedamaian