Archive for September, 2006

water: not for sale!

Wednesday, September 27th, 2006

Bapak yang murah senyum itu banyak memberikan nasihat, entah dia sadar apa tidak. Ketika kami mengantri air waktu itu, sambil kedua tangannya mengayunkan lengan dragon (pompa air), sesekali beliau berbicara kepada kami. Beliau bilang: "Air kan nggak ada (manusia) yang punya. Tuhanlah yang punya air". Saya waktu itu, dengan pengetahuan agama yang cetek, cuma bisa tersenyum sekaligus kagum dengan keikhlasan bapak itu untuk memompakan air buat sepuluhan orang yang mengantri saat itu.

Kemudian dia cerita, malah kemarin (dua hari sebelum aksi hari itu ada aksi besar2an kaum buruh), beliau sekitar 3 jam-an mompa air buat buruh2 yang jadi korban gas air mata, atau yang sekedar minum dan ambil air wudhu. Beliau bilang, apapun kebaikan yang kita lakukan, pasti ada balasannya. Nggak usah di akhirat, di duniapun ada jatahnya. Hanya saja, kebaikan itu bukan datang dari yang kita beri pertolongan. Kebaikan itu datang entah dari mana saja. Beberapa kali anak2 bapak itu merasa heran, karena ada saja yang memberi pertolongan buat mereka saat mereka mengalami kesusahan. Yah, kebaikan itu memang memberikan manfaat bukan untuk diri sendiri saja, mungkin juga buat orang yang kita kasihi.

Bapak yang punya taman di pinggiran kompleks Senayan itu memang memiliki satu sumur pompa air yang di gunakan buat menyirami kembang2nya dan buat orang2 lewat yang kebetulan memerlukan air. Saya baru sadar akan kata2nya di awal tadi bahwa air itu nggak ada yang punya, setelah mengetahui ada sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa air, padang gembalaan, dan api adalah milik publik, karena berkaitan dengan kepentingan publik yang ada di sana. Betapa dalam pengetahuan agama bapak itu (meski ini bukan semata-mata).

Ah, tapi kenyataannya, di negeri yang mayoritas muslim dan pemimpinnya juga muslim ini, harga air benar2 di luar logika. Bahkan dulu, air malah  menyaingi harga minyak. Sekarang air dalam kemasan, misalnya merk yang (katanya) airnya telah melewati 27 langkah hydroprosystem, harganya 2500 perak per 1,5 liter. Kalo yang 220 ml harganya 500 perak. Coba bayangkan, betapa sulitnya orang yang cuma mau minum air saja. Mereka (dan saja juga) kalau mau air minum sehat, tiap hari sekurang2nya harus mengeluarkan uang +- 3300 perak untuk 2 liter air.

Hey, padahal ini cuma mau minum air. Ini hanya sebuah kebutuhan dasar, sebuah kebutuhan yang nggak bisa diganggu gugat, bagi makhluk yang bukan saja manusia saja yang membutuhkannya. Masa’ sih, kita harus mengurangi porsi minum untuk menyesuaikan budget harian. Ok, buat yang hidup sendiri. Tapi bagaimana dengan keluarga nggak mampu yang terdiri dari beberapa kepala yang semuanya normal, membutuhkan minum yang cukup lagi sehat tiap harinya?

Memang bukan harga airnya yang jadi masalah. Saya nggak bermaksud menggugat dan bersikap uring2an trus  nggak mau tau. Tapi air bisa dijadikan satu contoh kecil saja, betapa mahalnya kebutuhan di negeri ini.

Coba bandingkan dengan Iran, negeri yang dicitrakan serem dan sangar. Di sana, kebutuhan rakyat kecil benar2 diperhatikan. Jangankan sekedar air minum, wong pendidikan gratis kok dari sd sampai jenjang perguruan tinggi. Jangankan air minum, wong fasilitas rumah sakit gratis kok. Di sana Ahmadinejjad benar2 jadi pahlawan orang miskin.

Atau bila dibandingkan sengan negerinya Fidel Castro, orang yang dicitrakan serem dan sangar juga. Jangankan air minum, pendidikan semua jenjang gratis, trus ada dokter yang diberi tanggung jawab pada beberapa keluarga miskin. Atau negerinya Hugo Cavez (Venezuela) dan Evo Morales (Bolivia) yang pendidikan seluruh jenjang juga gratis, dan kewajiban dokter pada setiap komunitas orang miskin. Sy sendiri sih bukan pengidola mereka. Tapi, untuk sekarang, siapa coba yang nggak kagum sama pemimpin2 yang benar2 berpihak sama rakyatnya.

Dan tentang kita? Au ah, gelap.

Air Tidak Untuk Dijual!

Malang, 28 9 06
"Tunggu aku di Jakarta mu….insya Allah dua hari lagi"

untuk Pak Reagen

Tuesday, September 26th, 2006

Pak Reagen yang terhormat

Mengapa anda membunuh satu-satunya saudara perempuan saya, Rafa dan kawan saya, Racha, yang umurnya baru sembilan tahun, dan boneka bayi saya, Strawberry. Benarkah anda mau membunuh kami semua karena ayah saya orang Palestina, dan Anda ingin membunuh Qaddafi karena ia ingin membantu kami untuk kembali ke rumah dan negeri ayah saya

Nama saya Kinda

gerhana bulan tadi malam

Friday, September 8th, 2006

alam memang menabjubkan. seperti tadi malam. ada yang menyaksikan?

Sekulerkah kita?

Wednesday, September 6th, 2006

Kau tahu apa yang disebut sekuler? Ya, memisahkan aturan-aturan Tuhan
dari kehidupan manusia. Atau kau juga bisa bilang, bahwa sekuleris,
orang-orang yang menganut paham sekuler, telah melupakan ayat-ayat yang
diberikan oleh Tuhan.

 

Jujur saja, aku tak setuju dengan paham sekuler. Manusia dibuat
menjadi sombong dan tak butuh akan hadirnya Tuhan. Biarlah urusan manusia,
manusia sendiri yang mengaturnya. Manusia tak butuh ayat-ayat Tuhan, manusia
tak butuh campur tangan Tuhan.

 

Namun, aku menjadi sadar bahwa selama ini kitapun seringkali berpaham
sekuler. Benarkan aku bila pikiranku ini benar, dan salahkan aku bila pikiranku
ini terbukti salah.

 

Aku bisa melihat orang-orang sekuler dari ketidakpeduliannya dengan
kitab suci. Kalaulah dia tak peduli dengan kitab suci , pasti dia sekurang-kurangnya
berpaham sekuler. Mereka cenderung melupakan ayat-ayat kauniyah, yang bisa kau
lihat dalam bentuk kitab suci sekarang ini.

 

Bila mereka cenderung lupa terhadap ayat-ayat Kauniyah, kita justru lupa
bahwa ayat-ayat Tuhan dibagi menjadi dua bagian. Kedua-duanya tak bisa dipisah.
Keduanya adalah ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat sunatullah. Ayat-ayat kauniyah
terdapat dalam kitab suci, sedangkan ayat-ayat sunatullah tersebar di alam.

 

Bila orang-orang yang kita sebut berpaham sekuler tak peduli terhadap
ayat-ayat kauniyah, mereka justru peduli dan menguasai ayat-ayat sunatullah.
Tidakkah kita lihat betapa mereka menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan dan
tekhnologi yang semuanya diperoleh dari belajar ayat-ayat sunatullah, belajar dari
alam.

 

Sederhananya, mereka menguasai ayat-ayat Sunatullah namun melupakan
ayat-ayat kauniyah. Kita  bisa mencap
sekuler untuk mereka. Lalu bagaimana dengan kita?

 

Tak jarang kita tidak menyeimbangkan kedudukan ayat-ayat Tuhan. Padahal
antara kauniyah dan sunattulah sama-sama pentingnya. Banyak ayat-ayat kauniyah
dalam kitab suci, baik secara tersurat, maupun tersirat, mengenai ayat-ayat sunatullah.
Beberapa misteri dalam ayat-ayat sunatullah dapat kita temukan jawabannya dalam
ayat-ayat kauniyah. Bahkan, seringkali Tuhan melalui ayat-ayat Kauniyahnya
memerintahkan manusia untuk memperhatikan ayat-ayat Sunatullah, sebagai
tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berpikir.

 

Sekarang, kita lupa dengan ayat-ayat sunatullah. Kita kehilangan
semangat-semangat Khwarizmi, Rhazes, Joanitius, Hali Rodowam, Avenzoar, Geber,
Mesue Major, hingga Canamushali. Kita kehilangan jiwa-jiwa Farrarius,
Azarquiel, Averroes, Alfraganus, Avicebron, hingga Avicenna. Kita kehilangan
jiwa dan semangat orang-orang yang peduli dengan ayat-ayat kauniyah sekaligus
dengan ayat-ayat sunatullah-Nya.

 

Bila orang-orang yang melupakan ayat-ayat kauniyah dapat disebut sebagai
sekuleris, lalu bagaimana dengan orang-orang yang melupakan ayat-ayat sunatullah-Nya?

 

Kalimongso, 060906

16.05 WIB   

Sekulerkah kita?

kisah aku dan arit

Wednesday, September 6th, 2006

Aku adalah orang paling kuat di daerah ini. Tak ada yang berani melawanku, meskipun aku berbuat salah dan tak adil sekalipun. Tidak pula lurah-lurah di desa-desa tetangga, meskipun aku juga lurah yang setingkat dengan mereka. Kau tahu sebabnya? Tubuhku sangat kuat, tegap, dan berisi. Dan bukan itu saja. Aku punya kawan-kawan, sesama lurah juga, yang setia mendukungku. Apapun yang kukatakan, mereka selalu mengiyakan. Apapun yang kuperintahkan, mereka selalu kerjakan. Kesetiaan mereka kepadaku amatlah besar, lebih dari yang pernah kau kira.

Kami sekelompok memiliki arit sebagai senjata kami. Ini juga yang membuat desa-desa lain lebih takut lagi kepada kami. Terkadang kami gunakan arit untuk kelengkapan bertani, demi kelangsungan hidup penduduk di desa-desa kami. Namun arit-arit itu lebih sering kami gunakan untuk menakut-nakuti, mengancam, dan bahkan membunuh penduduk desa lain. Sejauh ini, sudah ada dua dusun di salah satu desa seberang sungai yang aku beri pelajaran dengan arit-aritku, dua arit yang pertama kali desaku membuatnya. Banyak yang kehilangan nyawa, lebih banyak lagi yang kuberikan luka cacat di tubuhnya. Sebagai kenang-kenangan kecongkakanku, kugoreskan aritku ke tanah di masing-masing dusun. Sampai sekarang, bekas goresan itu tak pernah ditumbuhi rerumputan lagi.

Aku cukup puas membunuh dan membuat cacat mereka. Kalaulah itu tak kulakukan, tentulah mereka yang akan menyerangku lebih dahulu. Aku tak peduli, walau kau bilang tindakanku di luar perikemanusiaan.

Tak selamanya kekuasaan itu kekal. Sebuah desa tetangga berhasil juga membuat arit. Bahkan yang lebih modern. Aku sangat cemas. Ya, sangat cemas bila arit itu digunakan seperti kami gunakan; menakut-nakuti, mengancam, dan membunuh orang. Aku bisa membedakan mana model arit untuk menyabit gandum, yang selanjutnya kutulis dengan huruf biasa, mana model arit untuk menggorok leher, yang selanjutnya kutulis dengan huruf tebal. Aku tahu desa itu sekali waktu akan menggunakannya,. Arit-arit itu diperlihatkan di khalayak ramai, seakan sengaja memanas-manasi kami. Hanya desa itu yang menjadi tandingan kami sekarang.

Aku tak mungkin diam saja. Kuperintahkan pandai besi-pandai besi terbaik di desaku untuk membuat arit. Hasilnya, beribu-ribu arit telah tercipta. Artinya, berkali-kali lipat dari itu, telah kami ciptakan bayang-bayang kematian.

Kau tahu apa tindakanku selanjutnya? Tepat, kubungkam desa itu dengan mengacaukan kehidupan mereka. Aku bisa melihat celah bahwa lurahnya terlalu asyik dengan arit-arit. Arit-arit itu terlalu banyak memakan biaya untuk mebuatnya. Lurah itu lupa dengan gandum dan kain wol yang harus terpenuhi bagi penduduk desanya.

Lurah desa tersebut tak mampu lagi memperbaiki keadaan. Pertanian yang terlupakan pastilah tidak memberikan hasil yang berarti. Selanjutnya, kau tahu sendiri, desa itu melemah sendiri, perlahan namun pasti. Lemah tanpa aku serang. Dan kau tahu akhir kisahnya? Tak ada lagi desa itu sekarang. Dusun-dusunnya saling memisahkan diri, membentuk desa-desa kecil, tentu dengan lurah masing-masing.

Aku sangat lega. Setidaknya, kelompokkulah satu-satunya yang bisa membuat arit. Aku makin congkak, aku seenaknya bisa mencampuri urusan desa lain. Bila mereka melawan, aku tak segan-segan menakut-nakuti, mengancam, dan membunuh mereka. Singkatnya aku berkuasa penuh sekarang.

Penduduk desaku banyak yang memprotes. Tindakan-tindakanku menyerang desa-desa lain menuai kontra di kalangan pendudukku sendiri. Ya, mereka sangat peduli dengan nasib sesama manusia. Lagi pula, pada setiap penyerangan terhadap desa-desa lain, kubawa serta beberapa pemuda. Dan tak semua dari mereka pulang kembali dengan selamat. Inilah yang menambah penduduk desaku semakin memprotes aku.

Mereka juga sangat khawatir bila kecongkakanku kembali padaku. Apabila arogansiku berimbas buruk terhadapku. Seperti kejadian beberapa tahun lalu, ketika sepasang bangunan kembar di desaku diserang beberapa orang, yang menyebabkan bangunan itu hancur rata dengan tanah berikut dengan penduduk desa yang ada di dalamnya. Mereka adalah beberapa orang yang telah aku kecewakan. Namun kau tahu, mereka pun sama liciknya denganku, bahkan kau tak akan menduga bahwa bisa saja mereka adalah teman-temanku, dan bisa saja aksi mereka telah aku tahu sebelumnya—hanya  aku dan Tuhanmu yang tahu. Mereka mengatasnamakan aksi mereka dengan nama sebuah kelompok yang sama sekali menentang tindakan mereka. Aha, kartuku semakin menguasai permainan. Jalanku selanjutnya sudah terbuka lebar.

Berdasarkan pengakuan mereka, entah benar atau tidak, aku mulai menyerang kelompok yang namanya dicatut oleh mereka. Kuserang beberapa desa yang mayoritas penduduknya adalah kelompok itu dengan dalih ingin menangkap otak pelakunya. Aku tak peduli bahwa banyak wanita dan anak-anak yang menjadi korban dalam penyeranganku. Aku tak peduli bahwa banyak sekolah, pasar, dan tempat ibadah yang hancur. Aku tak peduli bahwa pemuda-pemuda desaku juga banyak yang gugur.

Tak puas dengan desa itu, aku mulai melirik di sebelah baratnya, sebuah desa yang sekian tahun lalu pernah aku serang. Aku katakan di depan sidang daerah, bahwa desa itu menyimpan senjata yang sama bahayanya dengan arit, bahkan lebih berbahaya lagi karena senjata itu tak terlihat. Begitu bodohnya sidang daerah yang mengekor saja kata-kataku. Wajar saja. Sidang itu diisi oleh orang-orang yang hidup di bawah ketiakku. Mana berani mereka membantah apalagi melawan .Oleh karena itu, dengan berlagak pahlawan, aku mengajak kawan-kawanku untuk melucuti senjata itu. Kuajak mereka untuk bergabung, karena aku tak cukup berani untuk melawan sendiri. Tak usah heran. Kekuatanku tak cukup meninggikan nyaliku, sedang kau tahu sejak lama bahwa aku adalah seorang pengecut.

Kami serang desa itu dengan membabi buta, tak peduli dengan kata-kata penduduk desaku dan desa lainnya. Tak peduli dengan nasib penduduk yang kami serang. Entah mereka wanita, anak-anak, atau orang tua. Ha ha ha,aku tak peduli dengan hak asasi manusia. Desa-desa itulah yang berkewajiban memberikan hak bagi kami, sedangkan kami tak perlu memenuhi hak bagi mereka. 

Kau tahu selanjutnya, tuduhanku benar-benar tidak terbukti. Jelas saja, aku menuduh murni tanpa alasan, tanpa bukti. Tapi bukan berarti hal itu tidak berguna untuk aku. Kau tahu hukum desa yang kalah perang? Ya, seluruh aktifitasnya dikendalikan oleh pemenang perang. Aku berhak atas kekayaan alamnya. Dan yang terpenting, aku tak usah cemas dengan kelangsungan roda penggiling padi hingga roda kendaraan di desaku, karena di desa yang kurebut sudah tersedia cukup minyak untuk persediaan beberapa puluh tahun lagi. Inilah yang tak kau sadar menjadi alasan utama aku serang desa itu.

Kau pasti paham, jika ada aksi maka ada reaksi. Aksiku yang semakin menjadi-jadi tentu menuai reaksi yang tak kalah hebatnya. Hampir seluruh penduduk di daerahku mengutuk aksiku. Ha ha ha, tapi aku tidak peduli. Jika mereka tak setuju, kemudian mau apa mereka?

Sekarang ini aku sedang bersiap-siap untuk menyulut api perang lagi. Sebuah desa di sekitar desa kedua yang kuserang telah berhasil membuat arit. Aku sangat cemas. Aku ketakutan dengan phobia yang kuciptakan sendiri. Aku sangat takut.

Meski desa itu membela diri mati-matian bahwa yang mereka buat adalah arit demi kemakmuran penduduk desa itu, bukan arit, aku tak akan rela. Cara-cara membuat arit adalah monopoliku. Bila tidak aku monopoli, kapan aku bisa menguasai daerah ini? Kapan daerah ini seutuhnya ada dalam cengkeramanku? Kapan lagi aku bebas menindas kelompok-kelompok yang melawanku, merusak pikiran kuncup-kuncup semangat mereka, menindas hak mawar-mawar mereka, merobohkan tiang-tiang penyangga peradaban mereka, hingga mengisap habis sari pati tanah subur mereka?

Aku mulai mendramatisir keadaan. Kubuat penduduk seluruh daerah untuk takut terhadap dugaan mereka sendiri. Untuk takut terhadap dugaan tak beralasan bahwa desa tersebut sedang berusaha membuat arit. Aku sembunyikan kenyataan bahwa aku dengan nyata-nyata telah memilki beribu-ribu arit. Aku samarkan kenyataan bahwa arit-aritku lebih banyak jenisnya untuk menggorok leher, dibandingkan jenis untuk menyabit gandum. Aku jauhkan pemikiran-pemikiran logis, bahwa tentu yang lebih berbahaya adalah yang nyata-nyata, bukan dugaan, bukan angan-angan.

Ha ha ha, kau akan tunggu berita selanjutnya bahwa desa tersebut akan benar-benar kami serang secara sepihak. Sebuah desa berkemampuan jauh di bawah kekuatan kelompokku. Tapi inilah yang aku suka. Aku sangat menikmati ketidakmampuan lawan. Kau tak akan mengerti, betapa menyenangkannya memecahkan balon berisi daging dan darah dengan sebuah kapak, yang sedianya kau bisa pecahkan dengan sebiji jarum.

Dasar dari seluruh tindakanku adalah karena aku suka perang. Lalu bila kau bertanya mengapa aku suka perang, aku akan menjawab, aku bukan kau yang baru bergerak bila engkau diserang, semata-mata untuk keadilan. Aku bukan kau yang butuh alasan dan syarat untuk berperang. Aku tak perlu alasan muluk-muluk untuk berperang. Aku tak punya syarat-syarat rumit untuk berperang. Kekuatanku sudah cukup menjadi alasan dan syarat untuk berperang. Aku punya kekuatan, itulah alasannya. Kekuatanku sudah cukup kuat, itulah syaratnya.

Aku tak peduli dengan keadilan. Aku tak peduli dengan kedamaian.

Namun betapapun aku memiliki kekuatan, ketakutanku sendiri lebih kuat dari pada kekuatanku ini

Kalimongso, 050906

                                                                                                                                    22.20 wib

                                                                                              huah…libur makin terasa lama saja

jika hanya kubaca saja (2)

Wednesday, September 6th, 2006

Kau tahu ayat-ayat pertama firman Tuhanku? Ya, tepat sekali. Tuhanku
mengajakku untuk mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan memberi makan orang
miskin. Tuhanku membolehkan aku untuk kaya, namun dia sangat membenci bila aku
menumpuk-numpuk harta. Dalam hartaku, ada hak-hak orang miskin yang harus aku
berikan kepada mereka. Namun bukan berarti Tuhanku meminta kepadaku. Tidak.
Seisi dunia ini tak ada artinya bagi-Nya. Seluruh zakatku, sedekahku, dan
infakku akan kembali padaku. Begitu juga dengan sholatku dan puasaku yang
semata-mata untuk diriku. Tuhanku tak butuh apa-apa dariku. Kerajaan-Nya
sangatlah agung. Kau pasti ingat, bahwa sekalipun seluruh umat manusia
berpaling dari-Nya, itu tak akan sedikitpun mengurangi keagungan kerajaan-Nya.
Sekalipun seluruh umat manusia beriman kepada-Nya, tak sedikitpun menambah
keagungan kerajaan-Nya.

 

Tuhanku tak menghendaki aku menjadi orang yang lemah, yang putus asa.
Kau akan terkesima mendapatkan siraman motivasi dari ayat-ayat-Nya.

 

Tuhanku tak menghendaki aku menjadi orang bodoh. Beberapa kali, dalam
ayat-ayat-Nya, Dia mendorong orang untuk berpikir. Apakah kamu tidak berpikir?
Apakah kamu tidak memperhatkan? Bukankah ayat-ayat-Nya ditujukan bagi kaum yang
berakal, yang mau berpikir?

 

Tapi kau sudah tahu kan aku seperti apa? Aku begitu tidak paham dengan ayat-ayat itu. Bukan berarti
ayat-ayat itu begitu rumit. Tidak. Ayat-ayat itu begitu mudah dipahami. Asalkan
ada kepedulian sedikit saja. Ya ya ya, kepedulian. Inilah yang aku tak punya
sehingga aku tak benar-benar paham dengan ayat-ayat itu. Aku begitu acuh tak
acuh, aku hanya membaca saja.

 

Kalimongso, 060906

14.26 WIB

jika hanya kubaca saja (1)

Wednesday, September 6th, 2006

Orang alim, ahli ibadah, calon penduduk surga, dan segudang julukan suci
lainnya akan kau sematkan di dadaku bila kau melihat aku. Betapa tidak,
tidakkah kau melihat aku, betapa rajinnya aku membaca firman Tuhanku? Saban
hari, sejak fajar menyingsing hingga malam tiba, kugunakan sebagian waktuku
untuk melantunkan alunan merdu sajak-sajak surgawi itu. Begitu indah, mengisi
seluruh ruang kalbu siapa saja yang mendengarnya.

 

Tapi kau akan berubah pikiran bila kau tahu aku sebenarnya. Kau tahu,
bahwa aku hanya sebatas membacanya saja? Kau tahu, meski aku takjub dengan
keindahan ajakan kebaikannya, tak sekalipun aku melakukan kebaikan itu. Aku
hanya membaca saja.

 

Aku bisa membacanya, aku mengerti arti kata perkata, kalimat perkalimat,
namun aku tak paham seutuhnya. Aku hanya berpikir, cukuplah ibadah itu adalah
melantunkan dengan merdu ayat-ayat Tuhanku. Ibadah adalah hanya sebatas itu.

 

Namun jangan berpikir bahwa aku benar-benar buta dengan ayat-ayat itu.
Aku tahu ayat-ayat yang mengajakku untuk sholat. Kau bisa lihat bahwa sholatku
hampir tak pernah aku tinggalkan. Aku tahu ayat-ayat yang mengajakku puasa. Kau
bisa lihat bahwa aku bahkan berpuasa sunat untuk itu. Aku tahu dengan ayat-ayat
yang mengajakku untuk berzakat. Kau bisa melihatku menyerahkan dua setengah
kilo beras tiap tahunnya kepada amil zakat di desaku.

 

Tapi aku sadar. Aku sholat namun tak mengerti makna sholat. Aku tak
mengerti mengapa harus berdiri, rukuk, dan sujud. Mengapa sholat setidaknya
harus

lima

kali sehari. Aku tak paham bahwa sholat yang
benar dapat mengingatkan ku selalu kepada Tuhanku, bersyukur kepada-Nya, menyegarkan
pikiranku, dan menjaga aku dari perbuatan yang dilarang oleh-Nya.

 

Aku berpuasa namun aku tak mengerti mengapa harus berlapar-lapar sehari
penuh. Aku tak mengerti bahwa untuk merasakan nasib orang-orang miskin, aku
harus ikut merasakan rasa lapar yang setiap hati mereka alami.

 

Aku berzakat, namun aku tak mengerti untuk apa berzakat. Aku tak
mengerti bahwa zakat sangatlah dibutuhkan bagi orang-orang miskin di desaku.
Aku hanya sebatas menyelesaikan kewajibanku saja. Tak usah kau tanya tentang
infak dan sedekah yang amat jarang aku lakukan.

IP sudah keluar

Friday, September 1st, 2006

Hari ini pengumuman IP di kampus, yang seharusnya sudah keluar Senin
(280806) kemarin. Tapi karena pak direktur, Mr. Salamun, sibuk, jadi ditunda
hingga IP baru keluar tadi siang.

 
Seperti pengumuman IP semester kemarin, jendela2 samping gedung P selalu
dikerubuti banyak mahasiswa. Di jendela-jendela kaca itu, dari sebelah dalam,
ditempel lembaran-lembaran kertas pengumuman IPK semester ini.
Lembaran-lembaran yang juga menentukan siapa yang boleh lanjut atau harus
keluar karena kena drop out.

 

Ada berbagai macam mimik di sana. Ada yang senyum terus, artinya dia lulus dan
IP-nya bagus. Ada yang cemberut, lulus tapi mungkin IP-nya ga
seperti yang dia harapkan. Ada
juga yang sampai nangis, sepertinya kawan baiknya ga begitu beruntung, kena DO
semester ini. Dan yang menarik, hampir semuanya sibuk dengan hp-nya masing-masing,
biasanya nelpon/sms ortu, berapa IP-nya sekarang. Atau nelpon/sms
teman-temannya yang pulang liburan, beri tw IP mereka. Terlihat benar2 sibuk,
layaknya menelepon ke daerah bencana saja.

 
Semester ini, dari spesialisasi saya (akuntansi pemerintah), setidaknya
ada 28 anak yang kena DO. Alasannya macam-macam, IPK yang tidak memenuhi
standar (< 2,75), ada ‘mata kuliah wajib’ yang dapat nilai D, ada yang
kedapatan mencontek pas ujian, dan ada juga yang mengundurkan diri.

Dan saya sendiri?

Saya sendiri benar2 bersyukur, pasalnya saya ga begitu serius pada
semester ini. Tapi hasilnya ga bikin saya kecewa, sepadan dengan ketidakseriusan
saya. Nilainya ga bikin kecewa, tapi ketidakseriusan itu yang bikin saya kecewa.

Apa yang kita dapatkan, tergantung dari usaha kita, betul tidak?

 
SEMANGAT…HEIGHH

Jogja (190806-230806)

Friday, September 1st, 2006

Ini kali keduanya saya ke Jogja. Kali pertama pas dari Surabaya ke Jakarta pakai kereta yang salah saya pilih: GBM (Gaya
Baru Malang) Selatan. Saran saya sekali-sekali jangan pakai kereta ini bila mau
ke Jakarta. Akan sulit anda bayangkan, duduk selama dua
puluh jam di kursi kereta ekonomi yang berbusa tipis, udara yang panas,
pedagang-pedagang yang hilir mudik, hingga menunggu berpuluh-puluh menit di
tiap stasiun, sampai kereta yang lebih mahal lewat. 

Meski ini kedua kalinya, tapi inilah pertama kalinya saya keliling2 kotaJogja (wong
yang pertama cuma numpang lewat doank).
Syukurlah di Jogja saya punya sahabat seperjuangan dari SMP. Adalah Aang, yang
ngantar saya jalan-jalan keliling Jogja, pake supra fit-nya. Inilah nikmatnya berteman, lu memang ga punya motor, lu memang ga tw
apa-apa tentang Jogja, dan lu memang ga punya tempat menginap di Jogja, tapi lu
punya sahabat yang mau ngantarin lu keliling Jogja dan kasi tempat nginap buat
lu, tul ga?

 

Btw, ada beberapa poin yang bisa saya catat dari kota Jogja:

  1. Kotanya teratur dan tertib, ciri kota budaya dan pariwisata
  2. Dari Puncak Merapi, Keraton Jogja, dan Pantai Parangtritis dapat ditarik satu garis
         lurus.
  3. Baru sehari di Jogja langsung disambut gempa. Walau berskala kecil dan berlangsung
         singkat, tetap saja bikin hati berdebar-debar.
  4. Salah satu slogannya keren, Joko Tabu alias Jogja Kota Sejuta Buku. Jadi, kurang
         afdal bila ke Jogja ga bawa oleh2 buku. (Usul, Joko Tabu itu dibikin
         maskot saja, biar nyaingin Joko Tingkir, Joko Tarub, dan Joko Sembung)
  5. Ternyata gudeg itu enak juga
  6. Gudeg itu dibuat dari gori, bukan nangka. Kalo dibilang nangka, orang Jogja akan senyam-senyum karena membayangkan nangka matang yang dibikin jadi sayur. Gori=nangka muda, dan ‘nangka’ orang Jogja=nangka matang (yang biasa dipakai buat bikin dodol di Lombok)
  7. Ga pernah ke Jogja namanya bila ga jalan-jalan di Malioboro
  8. Bakpia kumbu kacang ijo benar-benar bikin ketagihan
  9. Es jeruknya sering kemanisan
  10. Orangnya, khas Jawa bagian tengah, gaya bicaranya lemah lembut. Kalo hatinya? Yaa, pasti akan lebih cocok bila hatinya ikut lemah lembut juga
  11. Tulisan JOGJA seperti yang di kaos Dagadu sepertinya sudah baku jadi merek dagangnya Jogja. Boleh juga tuh kalo penciptanya daftarin tulisan itu ke kantor paten.
  12. Plat motor dari pelosok Tanah Air berkumpul di Jogja. Khas kota pelajar
  13. Gadjah Mada memang pantas jadi kampus impian banyak orang

 

Setidaknya ada 13 poin yang saya catat dari Jogja.

Ada tambahan?

 

Dari Jogja, cabut ke Jakarta

Kebetulan dapat GBM Selatan lagi (dari arah Surabaya yang mampir di Lempuyangan). Dan sekarang ga seberuntung kemarin, saya ga dapat tempat duduk. Jadi terpaksa duduk di lantai kereta, berhimpitan di lorong sempit, samping ruangan entah ruangan apa. Tapi syukurlah ada teman ngobrol hingga kaki yang ga bisa diselojorkan sedikit terlupa rasa pegalnya…