Aku adalah orang paling kuat di daerah ini. Tak ada yang berani melawanku, meskipun aku berbuat salah dan tak adil sekalipun. Tidak pula lurah-lurah di desa-desa tetangga, meskipun aku juga lurah yang setingkat dengan mereka. Kau tahu sebabnya? Tubuhku sangat kuat, tegap, dan berisi. Dan bukan itu saja. Aku punya kawan-kawan, sesama lurah juga, yang setia mendukungku. Apapun yang kukatakan, mereka selalu mengiyakan. Apapun yang kuperintahkan, mereka selalu kerjakan. Kesetiaan mereka kepadaku amatlah besar, lebih dari yang pernah kau kira.
Kami sekelompok memiliki arit sebagai senjata kami. Ini juga yang membuat desa-desa lain lebih takut lagi kepada kami. Terkadang kami gunakan arit untuk kelengkapan bertani, demi kelangsungan hidup penduduk di desa-desa kami. Namun arit-arit itu lebih sering kami gunakan untuk menakut-nakuti, mengancam, dan bahkan membunuh penduduk desa lain. Sejauh ini, sudah ada dua dusun di salah satu desa seberang sungai yang aku beri pelajaran dengan arit-aritku, dua arit yang pertama kali desaku membuatnya. Banyak yang kehilangan nyawa, lebih banyak lagi yang kuberikan luka cacat di tubuhnya. Sebagai kenang-kenangan kecongkakanku, kugoreskan aritku ke tanah di masing-masing dusun. Sampai sekarang, bekas goresan itu tak pernah ditumbuhi rerumputan lagi.
Aku cukup puas membunuh dan membuat cacat mereka. Kalaulah itu tak kulakukan, tentulah mereka yang akan menyerangku lebih dahulu. Aku tak peduli, walau kau bilang tindakanku di luar perikemanusiaan.
Tak selamanya kekuasaan itu kekal. Sebuah desa tetangga berhasil juga membuat arit. Bahkan yang lebih modern. Aku sangat cemas. Ya, sangat cemas bila arit itu digunakan seperti kami gunakan; menakut-nakuti, mengancam, dan membunuh orang. Aku bisa membedakan mana model arit untuk menyabit gandum, yang selanjutnya kutulis dengan huruf biasa, mana model arit untuk menggorok leher, yang selanjutnya kutulis dengan huruf tebal. Aku tahu desa itu sekali waktu akan menggunakannya,. Arit-arit itu diperlihatkan di khalayak ramai, seakan sengaja memanas-manasi kami. Hanya desa itu yang menjadi tandingan kami sekarang.
Aku tak mungkin diam saja. Kuperintahkan pandai besi-pandai besi terbaik di desaku untuk membuat arit. Hasilnya, beribu-ribu arit telah tercipta. Artinya, berkali-kali lipat dari itu, telah kami ciptakan bayang-bayang kematian.
Kau tahu apa tindakanku selanjutnya? Tepat, kubungkam desa itu dengan mengacaukan kehidupan mereka. Aku bisa melihat celah bahwa lurahnya terlalu asyik dengan arit-arit. Arit-arit itu terlalu banyak memakan biaya untuk mebuatnya. Lurah itu lupa dengan gandum dan kain wol yang harus terpenuhi bagi penduduk desanya.
Lurah desa tersebut tak mampu lagi memperbaiki keadaan. Pertanian yang terlupakan pastilah tidak memberikan hasil yang berarti. Selanjutnya, kau tahu sendiri, desa itu melemah sendiri, perlahan namun pasti. Lemah tanpa aku serang. Dan kau tahu akhir kisahnya? Tak ada lagi desa itu sekarang. Dusun-dusunnya saling memisahkan diri, membentuk desa-desa kecil, tentu dengan lurah masing-masing.
Aku sangat lega. Setidaknya, kelompokkulah satu-satunya yang bisa membuat arit. Aku makin congkak, aku seenaknya bisa mencampuri urusan desa lain. Bila mereka melawan, aku tak segan-segan menakut-nakuti, mengancam, dan membunuh mereka. Singkatnya aku berkuasa penuh sekarang.
Penduduk desaku banyak yang memprotes. Tindakan-tindakanku menyerang desa-desa lain menuai kontra di kalangan pendudukku sendiri. Ya, mereka sangat peduli dengan nasib sesama manusia. Lagi pula, pada setiap penyerangan terhadap desa-desa lain, kubawa serta beberapa pemuda. Dan tak semua dari mereka pulang kembali dengan selamat. Inilah yang menambah penduduk desaku semakin memprotes aku.
Mereka juga sangat khawatir bila kecongkakanku kembali padaku. Apabila arogansiku berimbas buruk terhadapku. Seperti kejadian beberapa tahun lalu, ketika sepasang bangunan kembar di desaku diserang beberapa orang, yang menyebabkan bangunan itu hancur rata dengan tanah berikut dengan penduduk desa yang ada di dalamnya. Mereka adalah beberapa orang yang telah aku kecewakan. Namun kau tahu, mereka pun sama liciknya denganku, bahkan kau tak akan menduga bahwa bisa saja mereka adalah teman-temanku, dan bisa saja aksi mereka telah aku tahu sebelumnya—hanya aku dan Tuhanmu yang tahu. Mereka mengatasnamakan aksi mereka dengan nama sebuah kelompok yang sama sekali menentang tindakan mereka. Aha, kartuku semakin menguasai permainan. Jalanku selanjutnya sudah terbuka lebar.
Berdasarkan pengakuan mereka, entah benar atau tidak, aku mulai menyerang kelompok yang namanya dicatut oleh mereka. Kuserang beberapa desa yang mayoritas penduduknya adalah kelompok itu dengan dalih ingin menangkap otak pelakunya. Aku tak peduli bahwa banyak wanita dan anak-anak yang menjadi korban dalam penyeranganku. Aku tak peduli bahwa banyak sekolah, pasar, dan tempat ibadah yang hancur. Aku tak peduli bahwa pemuda-pemuda desaku juga banyak yang gugur.
Tak puas dengan desa itu, aku mulai melirik di sebelah baratnya, sebuah desa yang sekian tahun lalu pernah aku serang. Aku katakan di depan sidang daerah, bahwa desa itu menyimpan senjata yang sama bahayanya dengan arit, bahkan lebih berbahaya lagi karena senjata itu tak terlihat. Begitu bodohnya sidang daerah yang mengekor saja kata-kataku. Wajar saja. Sidang itu diisi oleh orang-orang yang hidup di bawah ketiakku. Mana berani mereka membantah apalagi melawan .Oleh karena itu, dengan berlagak pahlawan, aku mengajak kawan-kawanku untuk melucuti senjata itu. Kuajak mereka untuk bergabung, karena aku tak cukup berani untuk melawan sendiri. Tak usah heran. Kekuatanku tak cukup meninggikan nyaliku, sedang kau tahu sejak lama bahwa aku adalah seorang pengecut.
Kami serang desa itu dengan membabi buta, tak peduli dengan kata-kata penduduk desaku dan desa lainnya. Tak peduli dengan nasib penduduk yang kami serang. Entah mereka wanita, anak-anak, atau orang tua. Ha ha ha,aku tak peduli dengan hak asasi manusia. Desa-desa itulah yang berkewajiban memberikan hak bagi kami, sedangkan kami tak perlu memenuhi hak bagi mereka.
Kau tahu selanjutnya, tuduhanku benar-benar tidak terbukti. Jelas saja, aku menuduh murni tanpa alasan, tanpa bukti. Tapi bukan berarti hal itu tidak berguna untuk aku. Kau tahu hukum desa yang kalah perang? Ya, seluruh aktifitasnya dikendalikan oleh pemenang perang. Aku berhak atas kekayaan alamnya. Dan yang terpenting, aku tak usah cemas dengan kelangsungan roda penggiling padi hingga roda kendaraan di desaku, karena di desa yang kurebut sudah tersedia cukup minyak untuk persediaan beberapa puluh tahun lagi. Inilah yang tak kau sadar menjadi alasan utama aku serang desa itu.
Kau pasti paham, jika ada aksi maka ada reaksi. Aksiku yang semakin menjadi-jadi tentu menuai reaksi yang tak kalah hebatnya. Hampir seluruh penduduk di daerahku mengutuk aksiku. Ha ha ha, tapi aku tidak peduli. Jika mereka tak setuju, kemudian mau apa mereka?
Sekarang ini aku sedang bersiap-siap untuk menyulut api perang lagi. Sebuah desa di sekitar desa kedua yang kuserang telah berhasil membuat arit. Aku sangat cemas. Aku ketakutan dengan phobia yang kuciptakan sendiri. Aku sangat takut.
Meski desa itu membela diri mati-matian bahwa yang mereka buat adalah arit demi kemakmuran penduduk desa itu, bukan arit, aku tak akan rela. Cara-cara membuat arit adalah monopoliku. Bila tidak aku monopoli, kapan aku bisa menguasai daerah ini? Kapan daerah ini seutuhnya ada dalam cengkeramanku? Kapan lagi aku bebas menindas kelompok-kelompok yang melawanku, merusak pikiran kuncup-kuncup semangat mereka, menindas hak mawar-mawar mereka, merobohkan tiang-tiang penyangga peradaban mereka, hingga mengisap habis sari pati tanah subur mereka?
Aku mulai mendramatisir keadaan. Kubuat penduduk seluruh daerah untuk takut terhadap dugaan mereka sendiri. Untuk takut terhadap dugaan tak beralasan bahwa desa tersebut sedang berusaha membuat arit. Aku sembunyikan kenyataan bahwa aku dengan nyata-nyata telah memilki beribu-ribu arit. Aku samarkan kenyataan bahwa arit-aritku lebih banyak jenisnya untuk menggorok leher, dibandingkan jenis untuk menyabit gandum. Aku jauhkan pemikiran-pemikiran logis, bahwa tentu yang lebih berbahaya adalah yang nyata-nyata, bukan dugaan, bukan angan-angan.
Ha ha ha, kau akan tunggu berita selanjutnya bahwa desa tersebut akan benar-benar kami serang secara sepihak. Sebuah desa berkemampuan jauh di bawah kekuatan kelompokku. Tapi inilah yang aku suka. Aku sangat menikmati ketidakmampuan lawan. Kau tak akan mengerti, betapa menyenangkannya memecahkan balon berisi daging dan darah dengan sebuah kapak, yang sedianya kau bisa pecahkan dengan sebiji jarum.
Dasar dari seluruh tindakanku adalah karena aku suka perang. Lalu bila kau bertanya mengapa aku suka perang, aku akan menjawab, aku bukan kau yang baru bergerak bila engkau diserang, semata-mata untuk keadilan. Aku bukan kau yang butuh alasan dan syarat untuk berperang. Aku tak perlu alasan muluk-muluk untuk berperang. Aku tak punya syarat-syarat rumit untuk berperang. Kekuatanku sudah cukup menjadi alasan dan syarat untuk berperang. Aku punya kekuatan, itulah alasannya. Kekuatanku sudah cukup kuat, itulah syaratnya.
Aku tak peduli dengan keadilan. Aku tak peduli dengan kedamaian.
Namun betapapun aku memiliki kekuatan, ketakutanku sendiri lebih kuat dari pada kekuatanku ini
Kalimongso, 050906
22.20 wib
huah…libur makin terasa lama saja