Archive for October, 2006

Tekad

Tuesday, October 17th, 2006

Istirahatku adalah saat ajal menjemputku

Malang, 17 10 06

Malang 151006

Sunday, October 15th, 2006

Alhamdulillah,setelah perjalanan yang lumayan panjang, sampai juga saya di Malang. Oya, bagi yang mau mudik pake kereta kelas tiga (ekonomi), sekarang sudah nggak ada ‘tiket duduk’. Benar2 nggak ada, bukannya habis. Ada "kebijakan" (<–sebuah gejala penghalusan istilah) baru dari PT KA kalo nggak ada tiket duduk buat mudik lebaran ini. Jadi di tiket nggak tercetak posisi tempat duduk, gerbong berapa, nomer berapa. Jadi kalau mau dapat tempat duduk sigap2 saja cari posisi.

Dan kemarin, saya sampai di Senen tepat lima menit sebelum Kertajaya (KA jurusan Surabaya) berangkat, kira2 pukul 16.10. Akibatnya, saya benar2 nggak dapat tempat duduk. Belum lagi sebelum itu, pintu2 gerbong pada ditutup. Penumpang di dalamnya nggak mau terima penumpang lagi, karena gerbong2 itu benar2 penuh. Beberapa penumpang yang masih di luar terlihat memukul-mukul pintu gerbong, pengen masuk. Baru pintu2 itu dibuka dari dalam. Sempat kesel juga,"Emang mereka saja yang mau mudik. Seenaknya saja tutup2 pintu gerbong. Sama2 susah koq tega bikin saudaranya tambah susah".

Trus, sampai dalam gerbong, terpaksa berdiri. Tanya2 penumpang lain turun di mana, berharap kali2 aja ada yang mau turun di Jatinegara (ga mungkin kale..), eh kebanyakan yang dapat tempat duduk turunnya pada di Pasar Turi (salah1 stasiun di Surabaya) semuah. Sempat merasa ngeri juga, membayangkan berdiri kayak orang bego sampai Surabaya. Tapi syukurlah, namanya sama2 orang kecil, rasa pedulinya tuh gede (meski nggak semuanya). Beberapa menit sebelum berbuka, beberapa penumpang di samping saya nggak tega melihat saya+carrier yang 1/2 kali tinggi badan saya, berdiri sambil garuk2 kepala. Seorang penumpang pindah ke bawah kursi yang rupanya sudah digelar beberapa lembar koran. Dan yang lainnya mempersilakan saya duduk di kursi itu. Alhamdulillah, ini baru namanya kepedulian, tolong menolong, tapa selira itu…

Pas waktu sholat bingung juga. Pada perjalanan sebelum2nya sih nggak masalah. Biasanya saya kebetulan dapat kursi yang berlawanan dengan arah kereta. Jadi kira2 saya duduk selalu hadap barat. Soale saya taunya, kalo sholat di kendaraan, asal takbiratul ihramnya saja yang hadap barat, setelah itu baru boleh hadap mana saja. Tapi ini kasusnya dah beda, masa saya harus memutar kepala saya 180 derajat ke belakang. Apa nggak ngeri tuh, bisa pingsan orang yang ngeliatnya.

Truz tiba2 orang di depan saya saya lihat lagi melakukan gerakan2 (isyarat2) sholat. Saya tunggu dia berhenti sholat, biar nanti bisa tukeran tempat. Habis dia berdoa sebentar, saya katakan maksud saya. Dia bilang, "Sholat saja, boleh hadap mana saja. Inikan darurat". Saya berpikir beberapa detik, "Ya, kemanapun wajahku menghadap, Allah ada di sana". Kemudian saya sholat, nggak pake wudhu, nggak pake tayammum, seperti yang saya taw dari ustadz2 di An Nasr & MBM.

Habis sholat, diskusi kami berlanjut. Saya nggak akan melewatkan begitu saja, kalau ada sesuatu yang baru saya dengar. Dia bilang, "Islam itu nggak susah, jadi jangan dibikin susah". Ok juga nih orang. Saya dapat jawaban ini (dalam bentuk contoh2 praktiknya) beberapa bulan yang lalu, dari buku  "Duhur malam hari, Tahajud siang hari". Buku ini lumayan menjawab pertanyaan saya sejak dulu, apakah benar Islam itu sulit banget? Coba bayangkan, bagaimana puasanya orang di Greenland, yang siang di musim panasnya bisa 20 jam? Trus sholatnya orang di kutub utara? Sholatnya orang di luar angkasa sono? Nah, dari buku ini, persoalan2 ini bisa terjawab. Islam itu nggak susah, jangan dibikin susah!

Jam setengah 8 sampai di Surabaya. Penumpang deretan kursi sebelah, yang sejak pertama naik kereta saya taksir anak stan juga, eh ternyata benar. Saya tahu dari jaketnya yang persis sama jaketnya Fadlan & Fauzi, anak2 Medan yang satu kos sama saya. Trus saya sapa dia, "temannya Fadlan? kenal Fauzi?". Dia mengangguk, "tau dari mana?". Dalam hati saya jawab,"Ah, mana saya lupa sama jaket yang dibangga2in satu kosan itu".

Trus kami sama2 ke Gubeng (stasiun KA satunya lagi di Surabaya). Naik len RT, sampai di stasiun lamanya. Kebetulan KA Panataran jurusan Blitar (lewat Malang) berangkat beberapa menit lagi. Beli tiket, truz naik. Syukurlah nggak begitu ramai, nggak seperti 3 pekan lalu saya ke Malang.

Lewat Porong, lewat  kubangan raksasa lumpur Lapindo  yang melegenda itu. Kampung2 yang terendam, sudah ditinggalkan para penghuninya. Entah berapa kerugian yang timbul dari semburan lumpur yang udah 140-an hari ini nggak bisa ditanggulangi itu.

Alhamdulillah, sampai Malang juga

Malang 15102006
"Tunggu aku, Dompu…"