Timbun Saja Selokan Itu
Thursday, November 30th, 2006Kadang kala dua hal yang bertolak belakang, bisa bersanding berdampingan. Seperti panas dan hujan. Mungkin di antara kita pernah mengalami, saat berkendara, tiba2 rintik hujan berhenti. Ketika menoleh ke belakang, kita bisa melihat potongan jalan yang basah diguyur hujan, dan saat memandang ke depan, ada potongan jalan yang kering tak terjamah hujan. Daerah di belakang sedang turun hujan, namun daerah di depan kendaraan, matahari malah bersinar tajam.
Ada dua hal lagi yang bertolak belakang, namun bisa bersanding berdampingan. Dua hal ini adalah kaya dan miskin. Aneh memang bila dua hal ini bisa hidup berdampingan. Bila mempertanyakan panas dan hujan yang bisa berdekatan, jawabnya mungkin sederhana saja: itu karena kejadian alam. Tapi, bila menyangkut kaya dan miskin, jawabnya mungkin sedikit lebih rumit: itu karena “seleksi alam”.
Realita hidup berdampingan kaya dan miskin ini banyak kita temukan, khususnya di kota2 besar. Seperti pernah di tayangkan di tv, di Jakarta, ada apartemen belasan lantai yang gak jauh dari situ berdiri dengan rapuh lapak2 para pemulung. Sudah jadi pemulung yang hidupnya susah, gak dapat BLT pula.
Di sekitar kampus juga ada hal seperti itu. Nama kawasan elit Bintaro Jaya nggak bisa menjamin bahwa semua orang yang tinggal di daerah itu hidup berkecukupan.
Ada banyak komunitas2 yang beristirahat malam harinya di lapak2 dari papan2 tipis, kardus, terpal usang, potongan seng bekas proyek, dengan pancangan batang2 bambu di tiap2 sudutnya.
Dan hidupnya berdampingan dengan perumahan orang2 yang sedikit lebih beruntung, yang diberikan kecukupan materi.
Itulah yang memiriskan hati siapa saja yang melihatnya. Seperti sebuah kawasan lapak di belakang kampus. Kawasan rumah2 bagus (yang nggak berlebihan bila disebut mewah) dan daerah lapak hanya dipisahkan oleh sebuah selokan dengan lebar sekitar 3 meter saja. Seakan-akan, selokan itulah yang jadi sebab rejeki nggak mengalir ke lapak2 itu. Bila kita berdiri di pinggir selokan itu, sebuah pemandangan kontras bisa kita saksikan: rumah2 bagus dgn tanaman2 hias bersebelahan dengan gubuk2 dan barang2 bekas.
Saya yakin, orang2 yang tinggal di rumah2 bagus itu tidak acuh tak acuh begitu saja dengan nasib saudara2 di sebelahnya. Saya juga yakin, mereka pasti memberikan uluran bantuan yang bernilai bagi saudara2 di sebelahnya. Masyarakat di situ tentu punya rasa kepedulian. Saya yakin dengan hal itu.
Terkadang, sering mengandai-andai. Membayangkan bila seluruh muslim membayar zakatnya, tidak lupa infak, sedekah + wakaf, tentu orang2 miskin bisa berkurang. Bukan hal yang mustahil, orang miskin di Indonesia bisa ditekan sampai angka 4% atawa bahkan kurang. Seperti dulu (duluuu sekali) ketika khalifah Umar mencari-cari orang2 untuk diberikan zakat, saking nggak ada orang miskin saat itu.
O ya, sekedar info, Rasulullah SAW dalam wasiat saat2 sakratul mautnya memberikan satu pesan: ushikum bishshalah wama malakat aimanukum, yang kira2 artinya: jangan lupa shalat dan orang2 miskin di sekitarmu.
Kalimongso 30 11 06
“timbun saja selokan itu…”