Archive for January, 2007

tak (pernah) sendiri…

Tuesday, January 30th, 2007

tak ada kesendirian. sungguh. meski aku dilempar sendiri di tengah padang savana, dengan tepi rumput-rumput tinggi.

aku tak pernah sendiri. hatiku  selalu jujur padaku: karena aku akan lemah, cemen, cengeng bila tak ditemani. aku butuh Yang selalu, selalu, dan menemani. yang jarak-Nya dan aku hanya seurat leher saja. yang bisikan paling lemah di hati bisa terdengar oleh-Nya.

aku tahu, langit di atas savana ini hanya bisa membisu. cahaya bulan pun hanya bisa melihat hitam, terang dan kelabu. ah, jangankan untuk melihat silang pemikiran dalam otakku.

aku tak pernah sendiri. selalu ditemani. bukan cahaya langit yang menemaniku. bukan cahaya bulan yang menemaniku. tapi Cahaya itu… Cahaya di Atas Cahaya.

aku rindu sorot Cahaya itu. yang tak pernah seperjuta detik berpaling dari ku. tidak untuk mengawasiku lalu menghakimiku karena kesalahanku. tidak!

sorot Cahaya itu bukti kecintaan bukan rantai pengekangan.

karna buat apa (hidup) tanpa Dia?

Kalimongso, 30 Jan 2007
"…adalah cinta, bukan rantai pengekangan" 

birunya langit jakarta

Saturday, January 13th, 2007

Ada yang aneh sama langit Jakarta, ya kira2 sudah dua minggu ini. (Setahun lebih sy di sini) Biasanya langit Jakarta selalu kelam, kayak langitnya Surabaya, sepertinya mendung tapi ngga turun hujan (kayak lagunya siapa itu..Popy Mercury ya..yang liriknya: mendung tak berati hujan…yakinlah itu suatu cobaan…halah). Sekarang, langit Jakarta jadi cerah. Siangnya biru terang, malamnya bertebaran bintang2.

Tapi dasar manusia, ngeluh melulu (lho?). Pasalnya, waktu langit Jakarta mendung kemerah-merahan, terasa kurang sedap dipandang mata. Ada nuansa resah, gelisah, saat memandangnya. Tapi, ada untungnya, sinar matahari sedikit ketahan sama "mendung" (yang katanya sebenarnya itu kumpulan asap dan debu) yang bikin sinar matahari kurang menyengat  di kulit. Meski udara panas, yah ada  sedikit yang meringankan: sinar matahari yang nggak terik menyengat.

Giliran langit cerah, sinar matahari turun ngga tanggung2. Nggak ada awan yang ngehalangin. Ya, implikasinya, sinar matahari terasa betul sengatannya.

Tapi cerahnya langit tetap saja mencitrakan keindahan. Biru. Terang. Bebas.Lepas. Lengkungan cakrawala. Kerlipan bintang. Senyuman bulan. Senyuman pedagang asongan. Hmm, hirup dalam-dalam dan hembuskan lepas-lepas udara ke langit cerah itu.

Eit, tunggu dulu, senyuman pedagang asongan? (Perkiraan saya) langit cerah Jakarta memaksa tubuh mengalami dehidrasi yang lebih dibandingkan hari biasanya. Dan orang ngga perlu mikir lama2 buat beli air minum dingin, soft drink dingin, teh dingin, kopi dingin, capucinno dingin, minuman isotonik dingin, dan semuah yang biasanya tersedia di embernya para pedagang asongan.  Moga2 perkiraan ini benar, omzet para pedagang asongan bisa meningkat pekan2 ini.

Mm, tiap kejadian alam, manusia bisa memandangnya dan menjalaninya beda2. Entah, para petani mungkin bingung sama musim yang tiba2 berubah. Baru kemarin Jakarta hujan tiap harinya, tiba2 langit jadi cerah ngga seperti biasanya. Kalo benar ngga ada sawah di Jakarta, ya ngga apa2. Tapi kalo kemaraunya nggak hanya di Jakarta? Nah, bingung jadinya.

Kalimongso, 13 01 06
"hirup udara malam, pandangi langit, tunjuk bintang itu, sebab tidak setiap saat kamu bisa melakukannya"

Tuluskah hatimu…

Saturday, January 6th, 2007

Kalo ngomongin tulus, kesannya moralis banget y. Tapi kemarin, dari secarik koran bekas saya dapat kisah yang benar2 menggugah. Sebuah kisah tentang ketulusan (cie..)

Entah, yang namanya tulus itu susah bener nyarinya sekarang (apa guanya yang bego y? Tentu saja mana ada ketulusan yang diekspos). Tapi saya sangat kagum sama salah satu contoh yang diberikan Rasulullah SAW.

Ceritanya, setiap hari, Rasulullah SAW memberikan makanan seorang wanita Yahudi-tua-buta yang mengemis di pinggir jalan. Karena buta, tentu saja wanita itu ngga tau siapa yang menyuapinya setiap hari. Dan Rasulullah pun nggak pernah memperkenalkan dirinya.


Tau ngga apa yang dibicarakan wanita tua itu ketika setiap kali disuapi dan mengobrol dengan R asulullah? Wanita tua itu selalu menyinggung, mengomel dan mencaci maki seseorang yang namanya Muhammad, tanpa mengetahui bahwa orang yang tiap hari menyuapinya itu adalah Muhammad itu (nah lho).

Dan Rasulullah selalu setia berlama-lama, demi mendengar curahan hati sang nenek.

Setelah Rasulullah wafat, Abubakar r.a. (khalifah pertama setelah Nabi Muhammad SAW) , menggantikan Rasulullah untuk memberi makan si nenek setiap harinya. Namun, si nenek merasakan sesuatu yang berubah dari suapan yang ia terima. Kata si nenek: “ Makanan yang masuk ke mulutku biasanya tidak seperti ini. Makanan yang disuapkan kepadaku lebih lembut, lebih renyah dan lebih enak”. Demi mendengar perkataan si nenek, Abubakar tak kuasa menahan keharuannya. Abubakar lalu mengatakan bahwa orang yang biasa menyuapi si nenek dengan suapan yang lembut dan makanan yang lebih renyah dan enak itu telah wafat. Si nenek lalu bertanya, siapakah orang itu. Abubakar menjawab, dia adalah Muhammad. Sang nenek pun ngga bisa menahan air matanya.

Wah, angkat topi deh buat ketulusan Nabi Muhammad. Coba pikir, balasan apa coba yang bisa didapat dari nenek-tua-buta yang ngga pernah tahu siapa yang menyuapinya bahkan membencinya itu? Ditambah lagi, Nabi Muhammad saat itu adalah kepala negara Madinah, seorang presiden, yang bisa2nya turun ke bawah, langsung memberi makan rakyat bawah dengan tangannya sendiri dan rela mendengar keluh kesah rakyat bawah. Bisa ngga y dilakukan oleh orang sekarang?

Kalimongso 060107

Ian

“klo yang ini angkat tangan deh…” 

frenship 4eva

Saturday, January 6th, 2007

“Besok liburan, kita ke Sumatera” Seorang kawan ngasih usul buat ngisi liburan (kalo tetap bisa kuliah sampai) kenaikan tingkat besok. “Mau ke mana?” “Nggak ada. Yang penting ke Sumatera, cari pengalaman”. Dan tw ngga, tanggapan teman yang lain? Sudah empat orang yang mendukung, itupun ide ini belum diinforrmasiin buat yang lain.Dan kesimpulan akhirrnya, semuanya sepakat buat ngumpulin dan nabung duit dari sekarang biar bisa jalan-jalan ke Sumatera.

Ide jalan-jalan ke Sumatera itu bisa saja kandas di tengah jalan. Kata Ahmad yang ngasih usul, intinya yang penting kita jalan-jalan bareng lagi. Terserah nanti ide ke Sumatera terealisasi atau ngga.

Trus Ahmad bilang lagi, kata Rasulullah SAW, buat memilih teman itu ada tiga tahapan seleksi. Kita bisa menilai seseorang apakah dia cocok buat dijadikan sahabat, pertama ketika kita melakukan perjalanan dengannya. Kedua, ketika kita tidur dengannya. Dan ketiga, ketika kita melakukan transaksi keuangan dengannya.

Mm, Rasulullah memang jitu kalo kasih petunjuk. Sederhana namun di situlah letak intinya. Saat melakukan perjalanan, sifat asli seseorang akan terlihat. Kesabarannya, sifat jujur, hingga kesetiakawanannya bisa dilihat. Saat tidur bersama, biasa sebelum terlelap pada ngomong ngalor ngidul dulu. Bahkan ngombrolnya sampai ke hal-hal pribadi, kadang menjadi ajang dan arena curhat. Tentang dirinya, tentang sesuatu yang dia cita-citakan, bahkan sampai ce idamannya. Kita bisa mengetahui lebih banyak tentang dia ketika momen ini. Dan terakhir, pada saat melakukan transaksi keuangan dengannya. Mm, mungkin bisa dilihat sifatnya yang memegang amanah dan memegang janji dari sini.

Dan secara nggak direncanakan, kami pernah melewati tiga tahapan seleksi ini (cie… kayak apa aja), saat ke Merbabu kemarin. Melakukan perjalanan bersama. Tidur himpit-himpitan dalam tenda buat ngelawan udara yang benar2 dingin. Dan saling pinjem duit buat beli perbekalan. Dan hasilnya nggak percuma, meski sebelum perjalanan ada yang belum saling kenal, kami bisa sangat akrab sampai sekarang, seperti saudara sekandung saja.

Abang saya yang hobi petualang pernah bilang, kalo pengen lihat watak asli temanmu, ajaklah dia naik gunung. Dan saya sadari, bukan saja watak teman kita yang bisa kita lihat, namun watak asli kita pribadi bisa kita rasakan saat naik gunung. Sifat nggak jujur, sombong, nggak sabaran,  ngga setia kawan dari dalam diri kita, muncul saat itu.

Dan kembali lagi ke kehidupan teladan kita, Rasulullah SAW. Ada banyak kisah yang pernah kita baca tentang persaudaraaan beliau dengan para sahabat. Jangankan cinta beliau kepada para sahabat (tentu buat umatnya juga), cinta para sahabatpun sangat besar terhadap beliau. Tak pernah ada dalam catatan sejarah, begitu cintanya seseorang terhadap seseorang lainnya, lebih dari cintanya terhadap istri, anak dan hartanya, selain cinta para sahabat (dan tentu cinta umatnya juga sampai sekarang) kepada Rasulullah. Yang paling saya ingat adalah kisah Umar r.a. yang tidak beranjak dari duduknya karena tidak mau membangunkan Rasulullah yang tidur dengan merebahkan kepala di paha Umar. Padahal, ada kalajengking yang menyengatkan bisanya di kaki Umar saat itu. Cck, terbayang ngga begitu eratnya hubungan persahabatan mereka.   

Kalimongso 060107