“Besok liburan, kita ke Sumatera” Seorang kawan ngasih usul buat ngisi liburan (kalo tetap bisa kuliah sampai) kenaikan tingkat besok. “Mau ke mana?” “Nggak ada. Yang penting ke Sumatera, cari pengalaman”. Dan tw ngga, tanggapan teman yang lain? Sudah empat orang yang mendukung, itupun ide ini belum diinforrmasiin buat yang lain.Dan kesimpulan akhirrnya, semuanya sepakat buat ngumpulin dan nabung duit dari sekarang biar bisa jalan-jalan ke Sumatera.
Ide jalan-jalan ke Sumatera itu bisa saja kandas di tengah jalan. Kata Ahmad yang ngasih usul, intinya yang penting kita jalan-jalan bareng lagi. Terserah nanti ide ke Sumatera terealisasi atau ngga.
Trus Ahmad bilang lagi, kata Rasulullah SAW, buat memilih teman itu ada tiga tahapan seleksi. Kita bisa menilai seseorang apakah dia cocok buat dijadikan sahabat, pertama ketika kita melakukan perjalanan dengannya. Kedua, ketika kita tidur dengannya. Dan ketiga, ketika kita melakukan transaksi keuangan dengannya.
Mm, Rasulullah memang jitu kalo kasih petunjuk. Sederhana namun di situlah letak intinya. Saat melakukan perjalanan, sifat asli seseorang akan terlihat. Kesabarannya, sifat jujur, hingga kesetiakawanannya bisa dilihat. Saat tidur bersama, biasa sebelum terlelap pada ngomong ngalor ngidul dulu. Bahkan ngombrolnya sampai ke hal-hal pribadi, kadang menjadi ajang dan arena curhat. Tentang dirinya, tentang sesuatu yang dia cita-citakan, bahkan sampai ce idamannya. Kita bisa mengetahui lebih banyak tentang dia ketika momen ini. Dan terakhir, pada saat melakukan transaksi keuangan dengannya. Mm, mungkin bisa dilihat sifatnya yang memegang amanah dan memegang janji dari sini.
Dan secara nggak direncanakan, kami pernah melewati tiga tahapan seleksi ini (cie… kayak apa aja), saat ke Merbabu kemarin. Melakukan perjalanan bersama. Tidur himpit-himpitan dalam tenda buat ngelawan udara yang benar2 dingin. Dan saling pinjem duit buat beli perbekalan. Dan hasilnya nggak percuma, meski sebelum perjalanan ada yang belum saling kenal, kami bisa sangat akrab sampai sekarang, seperti saudara sekandung saja.
Abang saya yang hobi petualang pernah bilang, kalo pengen lihat watak asli temanmu, ajaklah dia naik gunung. Dan saya sadari, bukan saja watak teman kita yang bisa kita lihat, namun watak asli kita pribadi bisa kita rasakan saat naik gunung. Sifat nggak jujur, sombong, nggak sabaran, ngga setia kawan dari dalam diri kita, muncul saat itu.
Dan kembali lagi ke kehidupan teladan kita, Rasulullah SAW. Ada banyak kisah yang pernah kita baca tentang persaudaraaan beliau dengan para sahabat. Jangankan cinta beliau kepada para sahabat (tentu buat umatnya juga), cinta para sahabatpun sangat besar terhadap beliau. Tak pernah ada dalam catatan sejarah, begitu cintanya seseorang terhadap seseorang lainnya, lebih dari cintanya terhadap istri, anak dan hartanya, selain cinta para sahabat (dan tentu cinta umatnya juga sampai sekarang) kepada Rasulullah. Yang paling saya ingat adalah kisah Umar r.a. yang tidak beranjak dari duduknya karena tidak mau membangunkan Rasulullah yang tidur dengan merebahkan kepala di paha Umar. Padahal, ada kalajengking yang menyengatkan bisanya di kaki Umar saat itu. Cck, terbayang ngga begitu eratnya hubungan persahabatan mereka.
Kalimongso 060107