birunya langit jakarta
Ada yang aneh sama langit Jakarta, ya kira2 sudah dua minggu ini. (Setahun lebih sy di sini) Biasanya langit Jakarta selalu kelam, kayak langitnya Surabaya, sepertinya mendung tapi ngga turun hujan (kayak lagunya siapa itu..Popy Mercury ya..yang liriknya: mendung tak berati hujan…yakinlah itu suatu cobaan…halah). Sekarang, langit Jakarta jadi cerah. Siangnya biru terang, malamnya bertebaran bintang2.
Tapi dasar manusia, ngeluh melulu (lho?). Pasalnya, waktu langit Jakarta mendung kemerah-merahan, terasa kurang sedap dipandang mata. Ada nuansa resah, gelisah, saat memandangnya. Tapi, ada untungnya, sinar matahari sedikit ketahan sama "mendung" (yang katanya sebenarnya itu kumpulan asap dan debu) yang bikin sinar matahari kurang menyengat di kulit. Meski udara panas, yah ada sedikit yang meringankan: sinar matahari yang nggak terik menyengat.
Giliran langit cerah, sinar matahari turun ngga tanggung2. Nggak ada awan yang ngehalangin. Ya, implikasinya, sinar matahari terasa betul sengatannya.
Tapi cerahnya langit tetap saja mencitrakan keindahan. Biru. Terang. Bebas.Lepas. Lengkungan cakrawala. Kerlipan bintang. Senyuman bulan. Senyuman pedagang asongan. Hmm, hirup dalam-dalam dan hembuskan lepas-lepas udara ke langit cerah itu.
Eit, tunggu dulu, senyuman pedagang asongan? (Perkiraan saya) langit cerah Jakarta memaksa tubuh mengalami dehidrasi yang lebih dibandingkan hari biasanya. Dan orang ngga perlu mikir lama2 buat beli air minum dingin, soft drink dingin, teh dingin, kopi dingin, capucinno dingin, minuman isotonik dingin, dan semuah yang biasanya tersedia di embernya para pedagang asongan. Moga2 perkiraan ini benar, omzet para pedagang asongan bisa meningkat pekan2 ini.
Mm, tiap kejadian alam, manusia bisa memandangnya dan menjalaninya beda2. Entah, para petani mungkin bingung sama musim yang tiba2 berubah. Baru kemarin Jakarta hujan tiap harinya, tiba2 langit jadi cerah ngga seperti biasanya. Kalo benar ngga ada sawah di Jakarta, ya ngga apa2. Tapi kalo kemaraunya nggak hanya di Jakarta? Nah, bingung jadinya.
Kalimongso, 13 01 06
"hirup udara malam, pandangi langit, tunjuk bintang itu, sebab tidak setiap saat kamu bisa melakukannya"