tak (pernah) sendiri…

tak ada kesendirian. sungguh. meski aku dilempar sendiri di tengah padang savana, dengan tepi rumput-rumput tinggi.

aku tak pernah sendiri. hatiku  selalu jujur padaku: karena aku akan lemah, cemen, cengeng bila tak ditemani. aku butuh Yang selalu, selalu, dan menemani. yang jarak-Nya dan aku hanya seurat leher saja. yang bisikan paling lemah di hati bisa terdengar oleh-Nya.

aku tahu, langit di atas savana ini hanya bisa membisu. cahaya bulan pun hanya bisa melihat hitam, terang dan kelabu. ah, jangankan untuk melihat silang pemikiran dalam otakku.

aku tak pernah sendiri. selalu ditemani. bukan cahaya langit yang menemaniku. bukan cahaya bulan yang menemaniku. tapi Cahaya itu… Cahaya di Atas Cahaya.

aku rindu sorot Cahaya itu. yang tak pernah seperjuta detik berpaling dari ku. tidak untuk mengawasiku lalu menghakimiku karena kesalahanku. tidak!

sorot Cahaya itu bukti kecintaan bukan rantai pengekangan.

karna buat apa (hidup) tanpa Dia?

Kalimongso, 30 Jan 2007
"…adalah cinta, bukan rantai pengekangan" 

Leave a Reply