Ada banyak hal
yang tidak aku mengerti di dunia ini, salah satunya… akuntansi. Bila
akuntansi adalah menghitung radian, tentulah aku suka. namun, akuntansi adalah
menghitung rugi laba, jadi apa mau dikata?
Kadang, hati
nurani tak mau diajak kompromi. Kau tahu bukan, akuntansi adalah pedang dan
tameng kaum kapitalis. Bunga atau yang disebut interest tersebar disetiap
halaman buku akuntansi, termaktub dalam setiap soal ujian, dalam situs-situs
akuntansi di dunia maya dan bergentayangan di kehidupan nyata.
Tak hanya bunga,
akuntansi juga adalah masalah untung rugi yang ekstrim. Bila kau mau untung, kurangi saja gaji pegawaimu.
Tak usah pikirkan kesejahteraan mereka, karena itu akan menambah ekspense yang
mengurangi profit kamu. Tak usah memikirkan tekhnologi tinggi yang mahal untuk
mengolah limbah, cobalah pikir dengan akal sehat, tidakkah itu mengurangi laba
yang harusnya masuk ke rekening kamu?
Bila COGS (Cost
Of Goods Sales) dari produksi kayu besi adalah murah, bodoh bila kamu tidak
melirik Borneo. Di sana, kayu besi melimpah. Kamu tinggal tebang pohon2 itu,
namun ingat prinsip kita, menanam kembali pohon ganti sama halnya
membuang-buang biaya. Kau tak ingin bukan, mengurangi keuntungan yang mengalir
ke pundi-pundimu tiap detik. Tiap detik? Ya, dari hilangnya hutan di negeri ini seluas empat lapangan
bola per detik!
Ah, tapi
akuntansi adalah alat bukan? Akuntansi adalah kuas, palet, kanvas, pahat, garpu
tala, tuts piano. Tergantung untuk apa kita gunakan dan keindahan hasilnya. Seperti reaktor nuklir, untuk membuat bom
atom atau untuk menerangi stadion sepak bola. Atau seperti besi, sebagai M-16
Maverick yang memuntahkan peluru atau sebagai peniti yang disematkan di
kerudung:
Kecuali suatu hari tombak
dijadikan alat pembunuh
dan bersarang di jantung kiri
tombak mengeluh
aku tak ingin seperti ini
….
Ketika besi-besi yang menjadi senjata
berubah fungsi
diam-diam peniti mensyukuri
”Aku menjadi penyemat baju seorang sufi
Setiap pagi aku dibawa rukuk sujud dan
mensyukuri
Nikmat Tuhan yang diberi
Aku tak ingin patah
Biar berkarat aku kini”
(Al Hadid, Fatin Hamama)
Akuntansi bisa
seperti itu. Dan karena itu, mungkin tak berlebihan bila akuntansi dibilang
seni. Akuntansi mencatat, sama halnya dalam memotret dalam dunia fotografi,
melukis oleh pelukis, menulis sajak oleh penyair, dan menyusun nada-nada
harmoni oleh komposer musik. Sebuah potret bisa memperlihatkan raut wajah susah
orang ibukota, di lain sisi sebuah lukisan Mooy
Indie membuat kita berdecak kagum betapa indahnya alam Indonesia. Sebait
lagu Jendela Kelas Satu mungkin
membuat orang bernostalgia. Namun, sebait lagu Tikus Kantor menggambarkan betapa parahnya birokrat kita. Seperti
akuntansi, betapa bahagianya saat mencatat transaksi yang saling menguntungkan.
Namun betapa mirisnya saat mencatat transaksi dengan bunga mencekik leher. Atau
ketika harus berpikir, yang aku rasa tidak perlu, saat mempertimbangkan idle cash ini untuk membeli mesin atau
membeli surat utang ribawi dan ongkang-ongkang kaki. Inilah letak seninya, ketika akuntansi memotret
sisi sosial manusia dan di lain waktu memotret sisi keserakahan manusia.
Ah, seniman tentu
bisa menentukan alirannya. Raden
Saleh yang romantisme, Affandi yang ekspressionisme. Tinggal pilih, kapitalisme
atau syariah. Akuntansi bukanlah monopoli kaum kapitalis. Ini membuatku
berpikir ulang. Bukankah Al Quran (Al Baqarah 2:282) secara eksplisit bahkan,
memuat salah satu prinsip dasarnya. Bukankah Nabi telah mulai menerapkannya dalam
pemerintahannya dulu? Bukankah double-entry telah lama dipraktekkan
kekhalifahan sebelum Pacioli menuliskannya (Ball, 1960)? Dan aku baru tahu
istilah Zornal telah lama digunakan
untuk mencatat tiap transaksi di zaman kekhalifahan dulu. Bahkan pengunaan In the name of God di awal buku catatan keuangan berasal dari In the name of Allah, the Most Gracious, the
Most Merciful (Bismillahhi Rahmani Rahiim).
Kalimongso, 8
Maret 2007
seperti pemberontakan realisme
terhadap romantisme dulu