Untuk Indonesia
Wednesday, April 18th, 2007Kasus IPDN menyeret semua PTK dalam area sorotan publik. Termasuk kampus sy tercinta, Ali Wardhana. Kemarin2, tumben2nya Liputan 6 datang ke kampus. Trus di Todays Dialogue-nya Metro TV. Di Republika. Di DPR lagi2 kena sorotan.
Yah, sy cuma bilang kalau kami beda saja. Adanya kampus ini nggak menimbulkan pemborosan anggaran negara (ingat!, tahun 2006 kampus memberikan sumbangan PNBP (penerimaan negara bukan pajak) sebesar 12 miliar dari pendaftaran 120 ribu peserta ujian, sedang kampus cuma dikasi dana 11 miliar). Negara nggak rugi, malah dapat 1 miliar lebihnya. Apalagi nantinya lulusan di sini rela di tempatkan ke mana saja di Indonesia, nggak macam2, sebagai pekerja yang dibayar murah (berapa sih gaji PNS sekarang?). Kualitas lulusannya juga boleh ditandingin sama lulusan univ lain.
Kami nggak nuntut kampus kami diperindah. Biarlah sederhana saja. Dengan gedung2 tua. Dengan tetesan air yang jatuh ke lantai kelas saat hujan turun. Dengan AC yang lebih banyak sebagai pajangan saja. Dengan lapangan bola tak berumput. Dengan kambing2 (beneran, suer…) yang bersileweran di kampus bahkan masuk ke kelas. Dengan text book2 yang rela kami bagi untuk satu berdua, bertiga, bahkan cukup dua buku untuk satu kelas.
Biarkan gedung2 tua itu berdiri tegak. Toh, air yang merembes jatuh bisa kami tadahi dengan kaleng bekas, atau mengering sendiri di lantai kelas. Kambing2 bisa jadi penghias pemandangan di situ, yang kadang kami merasa ada yang hilang saat para kambing nggak kelihatan. Biarkan lapangan bola itu terhampar, buat nyalurin bakat teman2 di sini yang semuanya hampir hobi main bola. Nggak apa2 bukunya dikit, toh banyak dosen2 yang jadi perpustakaan berjalan.
Di sini nggak ada senior dan junior, kami semua setara. Di sini nggak ada ospek yang keras dan nggak beralasan, bahkan hukuman push up pun tidak. Seragam kuliah kami simpel, cukup kemeja dan celana panjang saja. Tak masalah kemejanya krem, putih, hijau, biru, abu2, kuning, merah, hitam, kami bisa ekspresikan pribadi kami. Tak masalah sepatu pantofel, basket, futsal, hingga buat tracking, kami hanya ingin ekspresikan identitas kami. Nggak masalah botak, kribo, jabrik, sedikit (catatan: cuma bisa dikit, asal jangan ketahuan) gondrong, kami bisa ekspresikan watak kami. Dengan ekspresi kami sendiri, kami nggak akan lupa dengan amanat besar yang diembankan kepada kami.
Ya, kami beda. Itu saja.
Kalimongso 23:49
"yang juga penting, wall-nya harus tetap berdiri tegak!"