Archive for November, 2007

Apa adanya

Sunday, November 25th, 2007

Saya suka kamu apa
adanya

Saya cinta kamu apa
adanya

Saya sayang kamu ada
adanya

Oleh sebab saya suka,
cinta dan sayang kamu

Ya, kamu,

dengan nama, wajah,
tubuh, sifat dan sikap kamu sendiri

Bukan orang lain

 

Karna aku tak akan
tersenyum,

kesal,

         rindu  karna orang lain

Tak pula menangis,

  gembira,

tertawa karna orang lain

 

 

 

 

Kebayang nggak, begitu cintanya kamu kepada seseorang hingga
setiap apa yang dia lakukan selalu membuatmu tersenyum? (kalimat ini dikutip
dari “Traveler’s Tale, kisah si Ucup) Salah satu sebabnya karna kamu cinta dia
apa adanya. Begini, ehm, setiap orang punya ciri khas masing2, dalam sifatnya
yang jujur, sikapnya yang moody, matanya yang hitam indah yang entah belo entah
sipit, gaya bicaranya yang ceplas
ceplos, raut wajahnya ketika kesal, kegemarannya makan yang pedas2 yang membuat
wajahnya memerah ketika kepedasan, wajahnya yang serius ketika membaca buku,
gaya tulisan tangannya, suatu hal yang remeh temeh bisa membuatya marah dan dia
bisa diem2an berhari2 karna hal tersebut, dan lain2.

Bila keseluruhan sifat itu
membuatmu nyaman, berarti kamu cinta dia apa adanya. Sebab kamu tentulah merasa
kerepotan atas sifatnya yang moody, yang membuatmu terus2an serba salah. Sebab
kamu tentulah harus terbiasa dengan gayanya yang ceplas ceplos. Sebab kamu
tentul harus ekstra bersabar bila dia kesal ataupun marah. Nah bila hal2 dari
sisi2 negatifnya itu bisa membuatmu tersenyum, bukankah kau suka dia dalam apa
adanya dia?

 

 

Sy sangat ingat nasihat2 dari Bang Assue dan Bang Chori (salah
dua senior sy di stapala yang banyak mengajarkan hal2 yang nggak bisa saya
dapatkan dari perkuliahan di kelas), “Lu
bersikaplah apa adanya. Jangan jaim, jangan pakai topeng. Karna seburuk2nya

elu, itu adalah elu, dan apa adanya itu
yang membuat orang suka”
. Apa adanya itulah yang membuat kita beragam. Seandainya
seorang teman yang rame mencoba untuk kalem dan cool, siapa lagi yang bisa
meramaikan suasana? Seandainya seorang teman yang kalem mencoba untuk bersikap
korak, siapa lagi yang bisa memberi nasihat, sedangkan cukup sepatah dua patah
kalimat lucu darinya sudah bisa membuat hangat suasana, tanpa bersikap korak.
Seandainya seorang teman yang tempramen tiba2 bersikap lunak dan sok lemah
lembut, kita pasti merasa kehilangan dia. Seandainya seorang teman keras kepala
dan nekat mulai kehilangan pendirian ketika memutuskan sesuatu, siapa lagi yang
bisa menggerakkan dan meyakinkan teman lainnya?

Tanpa sadar, kita suka sifat
teman kita yang rame, teman kita yang kalem, teman kita yang tempramen, teman
kita keras kepala dan susah diatur. Dan bila dibalik, biarkan
diri kita apa adanya, diri kita yang rame, diri kita yang kalem, diri kita yang
tempramental, diri kira yang keras kepala, karna meskipun ada beberapa yang tak
suka, biarkanlah, kita punya teman2 baik dan “seseorang” yang mengerti,
mencintai dan menyayangi kita apa adanya.

 

 

Kalimongso 25-11-07

Topeng membuat kamu
tak bisa melihat keburuk2an diri kamu, untuk kamu perbaiki, karna yang terlihat
dicermin adalah topeng yang menipu, bukan wajah kamu yang asli.

Ada sholatnya?

Sunday, November 25th, 2007

Judul tulisan di atas itu sy ambil dari pertanyaan seorang anak
tingkat 1 waktu qt bikin acara pendakian umum ke Gede. Sy yg waktu itu
kebetulan jaga di pos pendaftaran sok (sok=shock=terguncang, bukan sok=silakan)
juga mendengar pertanyaan itu. Hampir2 sy teriak;”Hey, emangnya saya punya tampang atheis?”. Kalo wajah sy gelap
itu bukannya ga pernah kena air wudhu, tapi memang sayanya yang orang timur;
yang punya kulit gelap. Teman jaga saya juga ga kalah  kaget, akan tetapi dengan bijaknya kira2
menjawab;”De’, ada kok (waktu) sholatnya. Ini liat rundown acaranya. Dijamin
nggak akan bolong dey sholatnya. Ikut ya, cuma 65 ribu ko. Ikut ya…ikut ya…(sebenarnya
dia juga pengen bilang:”jangan takut, nanti kamu ditemani kakak2 dari Stapala
yang cakep, imut, pemberani dan tangguh kayak kita, iya kan Jack?”, sambil ketawa-ketiwi narsis
nggak jelas)

 

Itu kejadian pertama. Kejadian kedua, ketiga, dan keempat
waktu sy dan seorang teman lagi promosiin STAPALA (kelompok pecinta alam di
kampus) di depan mahasiswa baru. Beberapa maba bertanya: “Di gunung emang bisa
sholat kak?”. Lagi2 pertanyaan yang sy kira menjurus ke tuduhan: sy dan teman2
nggak sholat! Ok, ok, sy tw di kampus Ali Wardhana ini penuh dengan orang
cerdik pandai yang sholeh dan sholihah* (lihat keterangan dari tanda* ini di
bawah), siapapun pasti senang bila masih peduli dengan sholatnya dan
berbahagialah orang tua yang memiliki anak yang peduli dengan sholatnya,
seperti anak2 tingkat satu itu. Hanya saja, beberapa orang mungkin belum pernah
mengalami bagaimana terharunya ketika sholat di puncak gunung, ketika
mengumandangkan azan shubuh di puncak gunung yang merupakan menara azan
tertinggi yang pernah sy lihat. Ketika orang2 di bawah sana masih terlelap dan kitalah yang pertama
kali melihat fajar datang merambat manyusuri dinding bebatuan. Atau ketika kita
sujud syukur saat menjejakkan kaki di puncak gunung di atas 3000 mdpl yang
pertama kali kita daki. Suasana-suasana di mana amat sangat menyesal dunia
akhirat bila tidak digunakan untuk sholat dan mengucapkan sepatah dua patah
doa.

 

Entahlah, tak banyak orang yang bisa mengerti. Lebih banyak
yang sekedar melihat luarnya saja. Setidaknya, sy masih tetap berusaha memegang
nasihat ibu saya: jangan lupa sholat. Nasihat yang menurut sy benar2 bijak. Ibu
pasti sadar, anak2nya sudah besar, tidak bisa mudah diatur seperti dulu lagi;
dengan sapu lidi yang membuat sy takut untuk berbuat nakal dan macam2. Hanya
sholatlah yang bisa menjaga hati, seperti salah satu pesan abadi  yang bisa kita lihat setelah azan maghrib di
tivi. Sederhananya, di tempat yang dipisahlah ribuan kilo ini, ibu mempercayakan
pengawasan kepada sholatnya saya, untuk menjaga saya. Dan yang lebih membuat
saya percaya bahwa pesan ini begitu bijak, karena kedua unsur itu; ibu dan
sholat, tak bisa dipisahkan. Bila sy ingat ibu, sy ingat dengan nasihatnya
tadi. Dan bila saya sholat, sy ingat dengan siapa yang memberi nasihat tersebut;
agar tak lupa sy kirimkan sepatah dua patah doa untuknya.

 

Kecuali bila saya tak ingat kedua2nya… Semoga tidak.

 

Kalimongso 01;35 am di kosan yang baru

“aina nefa sambea" 

 

 

*catatan: kampus sy banyak yang menyebutnya lebih cocok sbg
pesantren ketimbang  kampus sekuler karna
begitu kentalnya suasana kehidupan agama di sini. Akronim STAN pun bertambah
satu: Sekolah Tinggi Agama Negara, ataw yang sedikit lebih nyentrik (secara
tidak langsung): Setelah Tamat Akad Nikah ;).

Kegiatan2 keagamaan begitu
semarak. Masjid kampus setiap hari mengadakan kajian Maghrib, Isya, dan tahsin
Shubuh. Belum lagi masjid2 sekitar kampus yang begitu aktif mengadakan acara2
keagamaan yang motor penggeraknya dari mahasiswa. Masjid2 tak kehilangan jamaah
ketika sholat berjamaah, apalagi Dhuhur, Maghrib dan Isya yang bisa shift2an
bwt sholat. Bahkan shubuhpun gang2 sekitar kampus begitu ramai oleh mahasiswa2
yang sholat ke masjid. Kampus ini, meskipun punya pemerintah, nggak akan
kehilangan moment bwt turun di jalan untuk2 aksi2 keagamaan; bahkan untuk
memprotes pemerintah. Kegiatan mentoring (halaqah, liqo) yang merupakan salah
satu cara dakwah begitu aktif, langsung diperkenalkan ke seluruh mahasiswa/i
muslim sejak masa2 orientasi kampus . Setiap spesialisasi (=jurusan) memilki
himpunan mahasiswa muslim, yang setingkat dengan himpunan mahasiswa umum. Kampus
juga punya radio komunitas yang bernuansa dakwah yang daerah cakupan siarannya
cukup luas.

Senja di Suryakencana

Sunday, November 25th, 2007

Ketakjuban mengalahkan lelah kaki ini

Ketika mataku menyapu hamparan luas di depanku

Hamparan lembah yang dihiasi ribuan pohon eidelweis:

Alun-alun Surya Kencana

 

Hmm, setapak demi setapak kujejakkan kaki

Eidelweis-eidelweis itu seperti membicarakan kedatanganku

Seperti para gadis mengerling manja yang membicarakan
pangeran pujaannya

Ah bukan, kalianlah para putrid dan aku pemuda yang tak
henti-henti berdecak kagum

Antara ketakjuban dan ungkapan syukur yang meresap di hati

dan tak
sepenuhnya aku mengerti

 

Air bening mengalir di tengah lembah

Gemericik air dari dinding tanah adalah alunan nada-nada
harmoni

yang partiturnya
masih menjadi rahasia besar manusia

 

Desir angin tenang menyapu dedaunan

Seperti tenang kepakan sayap malaikat penyemai eidelweis
putih

dan buah arbei
manis segar yang menjuntai merah

 

Kita tak segera ke puncak bukan?

Aku belum pernah melihat yang seperti ini

Aku ingin lebih lama menikmati keindahan ini

 

Kita tak segera ke puncak bukan?

Jangan kau ceritakan dulu apa yang akan kutemukan di atas

sana

Pastilah ada lagi ribuan ketakjuban di

sana

 

 

 

Tercatat dalam lamunan, di Alun-alun Surya Kencana- Gunung
Gede. Kemudian dipindahkan ke komputer setelah tiba di kos.

“aku tak tega
memetikmu, cukuplah gambar2 yang bisa ku abadikan, tuk ku bawa pulang”

Sial atau beruntung?

Sunday, November 25th, 2007

Kejadian2 di bawah ini membuat sy makin yakin, bahwa pertama “bersama kesulitan
ada kemudahan”, dan kedua, bila tak waspada, ”bersama kemudahan juga terdapat
kesulitan” (nb: yang kedua g jelas dasarnya dari mana … )

1.Upacara bendera di Tebing Parang, Purwakarta 17 Agustus 2007.
Ceritanya,  kamibertiga: saya, Refly dan Ernest dapat tugas buat ikut
upacara di Tebing    Parang yang diadakan oleh FPTI (federasi panjat
tebing Indonesia)
Cab. Jaksel featuring Pemda Purwakarta. Secara kami bertiga tercatat di divisi
RC (rc=rock climbing, bukan remote control) dan belum pernah ke
Parangsebelumnya maka dengan semangat membara kami terima tawaran itu.
Kepastiannya hari ini, dan besok harus berangkat.

Berdasarkan
aturan manajemen perjalanan, sebelum berangkat kami persiapkan segala
sesuatunya. Cukup daypack, beberapa buah carabiner, 3 pasang sepatu panjat,
chok friend, prusik, harness, calkbag, tenda, peralatan masak, duit, data2
tentang Purwakarta dan Tebing Parang dari internet, data2 dari laporan
perjalanan para senior yang pernah Parang, dan foto2 di album2 jadul. Sayangnya
data2 itu nggak terkumpul secara lengkap dan memadai, juga terdapat data2 yang
berbeda satu sama lain.

Start dari kampus sore hari dan harus sampai di Tebing parang sebelum jam 10
besoknya. Dari kampus ke Purwakarta lancar2 saja. Tanya2 orang di terminal
Purwakarta, akhirnya naik ojek ke desa Cilalawi. Dari sanaangkot sudah habis (angkot beroperasinya cuma siang dan beberapa kali saja).
Kalo pake ojek harganya 25 rb per orang, tapi karna budget ga cukup, kita
akhirnya memutuskan ga pake ojek. Lagi pula dari desa Cilalawi ke tebing parang
cuma 12 kilo.

 

Cuma
12 kilo?

 

12
kilo jalan kaki?

 
Sebenarnya qt nggak keberatan jalan kaki 12 kilo. Dengan perhitungan jalan
manusia 3 kilo per jam, kita cuma jalan kaki selama 4 jam saja, apa susahnya?
Tapi berhubung lokasi tebing parang kita nggak tw pasti di mana, ini jadi
masalah, sedang kami tak boleh telat ikut upacara besok paginya.

Nah,
awalnya saya ragu. Tapi semangat Ernest (salah satu cewe tangguh di Stapala.
Kita mw usulin dia ke tivi biar buat acara Petualangan Tiga Wanita Berkerudung)
buat jalan kaki, membuat qt yang laki2 tulen juga ga mw kalah. Akhirnya kami
bertiga memutuskan untuk jalan kaki ke tebing parang yang entah di mana
letaknya itu.

 

Ok,
jalan kaki satu jam, masih asyik ngobrol2. Tak dikira bahan obrol2an makin
menipis. Untunglah lewat truk (belakangan kami tw ternyata truk ikan) sebagai
ice breaker. Kami acungkan jempol tanda menumpang. Pak supir yang baik hati setuju
kami menumpang. Ernest “si wanita petualang berkerudung” duduk di depan. Sy
sama Refly melompat di belakang, mencari posisi duduk yang stabil, dan
menikmati pemandangan gelapnya hutan rimbun di kiri kanan kami.

 

Syukur
alhamdulillah, Allah mengirimkan supir yang baik hati (walaupun kekasih yang
baik hati belum dikirimin, ga apa2…) buat lewati hutan lebat itu. Pak supir
ternyata hanya bisa mengantar sampai di desanya saja. Selebihnya kami jalan
kaki lagi.

 

Setelah jalan kaki 1 jam-an, kita ketemu anak2 UNPAD yang lagi KKN. Heu..heu.., kita
ditawari buat nginep di kantor desa di situ, ditawari makan (nasi hangat + ikan
teri + sambel makyus, rasanya nendang banget , yang semuanya disajikan diatas
daun pisang dan digelar di atas tanah), dan ditawari untuk besok pagi diantar
pake motor ke Cibodas (desa terdekat dari tebing) yang jaraknya kira2 3 kilo
dari situ. Dengan sedikit basa-basi kami terima tawaran mereka. Anak2nya
asyik2, yang saya paling ingat sama yang biasa dipanggil Zack (lengkapnya Zack
Al Gebra) oleh kawan2nya. Secara dia anak sastra, bahasanya tingkat tinggi dan
tampaknya jago bikin puisi secara spontan. Trima kasih banyak.

 

Ternyata
ada banyak orang2 yang baik hati yang dikirimkan malam itu (walaupun kekasih
yang baik hati belum dikirimin, ga apa2…)

 

Paginya
setelah sholat subuh, diantar pake motor. Gila, jalannya rusak parah, mana naik
turun lagi. Kami sampai ke Cibodas, hari masih gelap. Ada jalan seukuran lebar mobil
yang kami ikuti. Tampak dari kejauhan siluet Tebing Parang setinggi 300 meter
(data dari internet). Kami lalu mencari2 lokasi upacara, ketemu, dirikan tenda.
Setelah itu tidur! Tapi sayanya doang. Refly sama Ernest penasaran sama itu
tebing, dan terus lanjut mendaki tebing itu, dan belakangan sy nyusul.

 

Upacara
bendera. Benderanya ada dua. Yang satu di lapangan uapcara. Yang satu dipuncak
“twin tower”, puncak tertinggi parang. Bendera kedua ukurannya 10 kali 20
meter. Dengan berat sekitar 120 kilogram. Bendera itu dipasang dua hari
sebelumnya oleh 12 atlet FPTI Jaksel.

 

Setelah gagal menjajal Parang (yang klo diceritain, panjang ceritanya), kami
balik ke Jakarta sore hari. Sampai di
Terminal Purwakarta nggak dapat bus ke Kp. Rambutan. Akhirnya naik yang kearah
UKI. Itupun setelah menunggu sekitar 2 jam-an. Ketemu lagi seorang mahasiswa
baik hati yang mw menunjukkan jalan pulang (berhubung kami bertiga bukan orang Jakarta
yang hapal mati jalan; sy dari Sumbawa, Refly dari
Solok, Sumbar, sedang Ernest dari Semarang
).

Sy
percaya bersama kesulitan, ada kemudahan

 

2. Kejadian kedua waktu mudik kemarin.
Mudik pake backpack cukup besar dan terisi penuh serasa
mendramatisir suasana. Makan di warteg, sebelum ke Pulo Gadung. Ibu empunya warteg nanya2 mau ke mana. Sy bilang: mw balik ke Sumbawa.Ibu itu kaget  mungkin berpikir betapa jauhnya kampong sy dan obrolan berhenti karena sy sibuk dengan makanan saya.

Setelah
bayar makanan, ibu tadi ngeluarin bungkusan yang diam2 dia siapin waktu sy
makan tadi, katanya untuk bekal di jalan dan nggak usah dibayar. Tampak matanya
berkaca2, dia terharu tampaknya. Sy jadi ikutan sedih (padahal dia nggak kenal
saya). Sy sampaikan ucapan terima kasih dan berjanji akan memakan bekal yang
dia berikan.

 

Mm,
awal yang indah. Sy dapat bekal gratis nih. Bekal sederhana dari orang yang tak
kukenal: nasi, orek tempe,
telor, kerupuk, sayur 2 macam, plus pisang 2 buah. Sambil menunggu bus ke
Surabaya di PuloGadung, saya makan itu bekal dan mengirimkan doa untuk ibu yang
baik hati itu.

Nah,
bersama kemudahan, kalo nggak wapada terdapat kesulitan. Sy kena calo.
Bayangkan ke Surabayakena
150 ribu kelas ekonomi dengan kursi dua-tiga, jelas tanpa AC. Tabahlah. Sy
ngomong ke supirnya, dia kasih janji buat nyariin yang eksekutif setelah tiba
di solo nanti. Dan ternyata nggak jadi karna sy bangun setelah bus lewati Solo.
Sukses besar orang2 itu nipu saya. Semoga IP sy naik semester ini ya Allah…

Hati2,
bersama kemudahan, juga ada kesulitan yang mengintai

 

Kalimongso
24 11 2007

“setelah
lama nggak ngeblog”