Ada sholatnya?

Judul tulisan di atas itu sy ambil dari pertanyaan seorang anak
tingkat 1 waktu qt bikin acara pendakian umum ke Gede. Sy yg waktu itu
kebetulan jaga di pos pendaftaran sok (sok=shock=terguncang, bukan sok=silakan)
juga mendengar pertanyaan itu. Hampir2 sy teriak;”Hey, emangnya saya punya tampang atheis?”. Kalo wajah sy gelap
itu bukannya ga pernah kena air wudhu, tapi memang sayanya yang orang timur;
yang punya kulit gelap. Teman jaga saya juga ga kalah  kaget, akan tetapi dengan bijaknya kira2
menjawab;”De’, ada kok (waktu) sholatnya. Ini liat rundown acaranya. Dijamin
nggak akan bolong dey sholatnya. Ikut ya, cuma 65 ribu ko. Ikut ya…ikut ya…(sebenarnya
dia juga pengen bilang:”jangan takut, nanti kamu ditemani kakak2 dari Stapala
yang cakep, imut, pemberani dan tangguh kayak kita, iya kan Jack?”, sambil ketawa-ketiwi narsis
nggak jelas)

 

Itu kejadian pertama. Kejadian kedua, ketiga, dan keempat
waktu sy dan seorang teman lagi promosiin STAPALA (kelompok pecinta alam di
kampus) di depan mahasiswa baru. Beberapa maba bertanya: “Di gunung emang bisa
sholat kak?”. Lagi2 pertanyaan yang sy kira menjurus ke tuduhan: sy dan teman2
nggak sholat! Ok, ok, sy tw di kampus Ali Wardhana ini penuh dengan orang
cerdik pandai yang sholeh dan sholihah* (lihat keterangan dari tanda* ini di
bawah), siapapun pasti senang bila masih peduli dengan sholatnya dan
berbahagialah orang tua yang memiliki anak yang peduli dengan sholatnya,
seperti anak2 tingkat satu itu. Hanya saja, beberapa orang mungkin belum pernah
mengalami bagaimana terharunya ketika sholat di puncak gunung, ketika
mengumandangkan azan shubuh di puncak gunung yang merupakan menara azan
tertinggi yang pernah sy lihat. Ketika orang2 di bawah sana masih terlelap dan kitalah yang pertama
kali melihat fajar datang merambat manyusuri dinding bebatuan. Atau ketika kita
sujud syukur saat menjejakkan kaki di puncak gunung di atas 3000 mdpl yang
pertama kali kita daki. Suasana-suasana di mana amat sangat menyesal dunia
akhirat bila tidak digunakan untuk sholat dan mengucapkan sepatah dua patah
doa.

 

Entahlah, tak banyak orang yang bisa mengerti. Lebih banyak
yang sekedar melihat luarnya saja. Setidaknya, sy masih tetap berusaha memegang
nasihat ibu saya: jangan lupa sholat. Nasihat yang menurut sy benar2 bijak. Ibu
pasti sadar, anak2nya sudah besar, tidak bisa mudah diatur seperti dulu lagi;
dengan sapu lidi yang membuat sy takut untuk berbuat nakal dan macam2. Hanya
sholatlah yang bisa menjaga hati, seperti salah satu pesan abadi  yang bisa kita lihat setelah azan maghrib di
tivi. Sederhananya, di tempat yang dipisahlah ribuan kilo ini, ibu mempercayakan
pengawasan kepada sholatnya saya, untuk menjaga saya. Dan yang lebih membuat
saya percaya bahwa pesan ini begitu bijak, karena kedua unsur itu; ibu dan
sholat, tak bisa dipisahkan. Bila sy ingat ibu, sy ingat dengan nasihatnya
tadi. Dan bila saya sholat, sy ingat dengan siapa yang memberi nasihat tersebut;
agar tak lupa sy kirimkan sepatah dua patah doa untuknya.

 

Kecuali bila saya tak ingat kedua2nya… Semoga tidak.

 

Kalimongso 01;35 am di kosan yang baru

“aina nefa sambea" 

 

 

*catatan: kampus sy banyak yang menyebutnya lebih cocok sbg
pesantren ketimbang  kampus sekuler karna
begitu kentalnya suasana kehidupan agama di sini. Akronim STAN pun bertambah
satu: Sekolah Tinggi Agama Negara, ataw yang sedikit lebih nyentrik (secara
tidak langsung): Setelah Tamat Akad Nikah ;).

Kegiatan2 keagamaan begitu
semarak. Masjid kampus setiap hari mengadakan kajian Maghrib, Isya, dan tahsin
Shubuh. Belum lagi masjid2 sekitar kampus yang begitu aktif mengadakan acara2
keagamaan yang motor penggeraknya dari mahasiswa. Masjid2 tak kehilangan jamaah
ketika sholat berjamaah, apalagi Dhuhur, Maghrib dan Isya yang bisa shift2an
bwt sholat. Bahkan shubuhpun gang2 sekitar kampus begitu ramai oleh mahasiswa2
yang sholat ke masjid. Kampus ini, meskipun punya pemerintah, nggak akan
kehilangan moment bwt turun di jalan untuk2 aksi2 keagamaan; bahkan untuk
memprotes pemerintah. Kegiatan mentoring (halaqah, liqo) yang merupakan salah
satu cara dakwah begitu aktif, langsung diperkenalkan ke seluruh mahasiswa/i
muslim sejak masa2 orientasi kampus . Setiap spesialisasi (=jurusan) memilki
himpunan mahasiswa muslim, yang setingkat dengan himpunan mahasiswa umum. Kampus
juga punya radio komunitas yang bernuansa dakwah yang daerah cakupan siarannya
cukup luas.

7 Responses to “Ada sholatnya?”

  1. Heidy Says:

    Ha ha ha..sy trtawa bwt paragraf2 prtama n hikss hikss hikss..buat paragraf trakhir. sungguh ironis hidup d jaman ni, susah …1000x!!

  2. Black Says:

    AH KAMU BARU SOLAT DI GUNUNG SAJA SOMBONG NIH OGUT SOLAT DI BEKAS TUMPUKAN BATA RUNTUH GEDUNG SISA GEMPA DOMPU HAHAHAHAHAHAAHA!!!

    *maen pasir di pojokan*

  3. p e t t a Says:

    perjuangan tiada akhir

  4. Juna Putra II Says:

    @heidy: doakan saya kawan…
    @Black: masih hidup? h3. Alhamdulillah. Banyak yang menanyakan keadaanmu. Katanya mw ke jakarta lagi? Animax menunggu, Black.
    @Petta: smoga g mundur di tengah jalan

  5. kadal Says:

    ada yang mengira gw penjual ganja..
    ada yang mengira gw tukang minum
    ada yang mengira gw nasrani ato atheis..
    ada yang mengira gw cleaning service..
    ada yang mengira gw preman sarmili..

    life must go on je..!!!

  6. Juna Putra II Says:

    @kadal: Giliran si kadal malah di kira ikhwan, h3

  7. Sri Says:

    meng-haru-kan…

Leave a Reply