Senja di Suryakencana

Ketakjuban mengalahkan lelah kaki ini

Ketika mataku menyapu hamparan luas di depanku

Hamparan lembah yang dihiasi ribuan pohon eidelweis:

Alun-alun Surya Kencana

 

Hmm, setapak demi setapak kujejakkan kaki

Eidelweis-eidelweis itu seperti membicarakan kedatanganku

Seperti para gadis mengerling manja yang membicarakan
pangeran pujaannya

Ah bukan, kalianlah para putrid dan aku pemuda yang tak
henti-henti berdecak kagum

Antara ketakjuban dan ungkapan syukur yang meresap di hati

dan tak
sepenuhnya aku mengerti

 

Air bening mengalir di tengah lembah

Gemericik air dari dinding tanah adalah alunan nada-nada
harmoni

yang partiturnya
masih menjadi rahasia besar manusia

 

Desir angin tenang menyapu dedaunan

Seperti tenang kepakan sayap malaikat penyemai eidelweis
putih

dan buah arbei
manis segar yang menjuntai merah

 

Kita tak segera ke puncak bukan?

Aku belum pernah melihat yang seperti ini

Aku ingin lebih lama menikmati keindahan ini

 

Kita tak segera ke puncak bukan?

Jangan kau ceritakan dulu apa yang akan kutemukan di atas

sana

Pastilah ada lagi ribuan ketakjuban di

sana

 

 

 

Tercatat dalam lamunan, di Alun-alun Surya Kencana- Gunung
Gede. Kemudian dipindahkan ke komputer setelah tiba di kos.

“aku tak tega
memetikmu, cukuplah gambar2 yang bisa ku abadikan, tuk ku bawa pulang”

3 Responses to “Senja di Suryakencana”

  1. Black Says:

    Ya. Kalo Noris itu pangeran tentu saja saya bunuh diri.

  2. Juna Putra II Says:

    kenapa Black? Kau cemburu kepada bunga2 itu? h3

  3. Juna Putra II Says:

    kenapa Black? Kau cemburu kepada bunga2 itu? h3

Leave a Reply