Senja di Suryakencana
Ketakjuban mengalahkan lelah kaki ini
Ketika mataku menyapu hamparan luas di depanku
Hamparan lembah yang dihiasi ribuan pohon eidelweis:
Alun-alun Surya Kencana
Hmm, setapak demi setapak kujejakkan kaki
Eidelweis-eidelweis itu seperti membicarakan kedatanganku
Seperti para gadis mengerling manja yang membicarakan
pangeran pujaannya
Ah bukan, kalianlah para putrid dan aku pemuda yang tak
henti-henti berdecak kagum
Antara ketakjuban dan ungkapan syukur yang meresap di hati
dan tak
sepenuhnya aku mengerti
Air bening mengalir di tengah lembah
Gemericik air dari dinding tanah adalah alunan nada-nada
harmoni
yang partiturnya
masih menjadi rahasia besar manusia
Desir angin tenang menyapu dedaunan
Seperti tenang kepakan sayap malaikat penyemai eidelweis
putih
dan buah arbei
manis segar yang menjuntai merah
Kita tak segera ke puncak bukan?
Aku belum pernah melihat yang seperti ini
Aku ingin lebih lama menikmati keindahan ini
Kita tak segera ke puncak bukan?
Jangan kau ceritakan dulu apa yang akan kutemukan di atas
sana
Pastilah ada lagi ribuan ketakjuban di
sana
Tercatat dalam lamunan, di Alun-alun Surya Kencana- Gunung
Gede. Kemudian dipindahkan ke komputer setelah tiba di kos.
“aku tak tega
memetikmu, cukuplah gambar2 yang bisa ku abadikan, tuk ku bawa pulang”
December 4th, 2007 at 1:26 pm
Ya. Kalo Noris itu pangeran tentu saja saya bunuh diri.
December 7th, 2007 at 12:09 am
kenapa Black? Kau cemburu kepada bunga2 itu? h3
December 7th, 2007 at 12:10 am
kenapa Black? Kau cemburu kepada bunga2 itu? h3