Sial atau beruntung?

Kejadian2 di bawah ini membuat sy makin yakin, bahwa pertama “bersama kesulitan
ada kemudahan”, dan kedua, bila tak waspada, ”bersama kemudahan juga terdapat
kesulitan” (nb: yang kedua g jelas dasarnya dari mana … )

1.Upacara bendera di Tebing Parang, Purwakarta 17 Agustus 2007.
Ceritanya,  kamibertiga: saya, Refly dan Ernest dapat tugas buat ikut
upacara di Tebing    Parang yang diadakan oleh FPTI (federasi panjat
tebing Indonesia)
Cab. Jaksel featuring Pemda Purwakarta. Secara kami bertiga tercatat di divisi
RC (rc=rock climbing, bukan remote control) dan belum pernah ke
Parangsebelumnya maka dengan semangat membara kami terima tawaran itu.
Kepastiannya hari ini, dan besok harus berangkat.

Berdasarkan
aturan manajemen perjalanan, sebelum berangkat kami persiapkan segala
sesuatunya. Cukup daypack, beberapa buah carabiner, 3 pasang sepatu panjat,
chok friend, prusik, harness, calkbag, tenda, peralatan masak, duit, data2
tentang Purwakarta dan Tebing Parang dari internet, data2 dari laporan
perjalanan para senior yang pernah Parang, dan foto2 di album2 jadul. Sayangnya
data2 itu nggak terkumpul secara lengkap dan memadai, juga terdapat data2 yang
berbeda satu sama lain.

Start dari kampus sore hari dan harus sampai di Tebing parang sebelum jam 10
besoknya. Dari kampus ke Purwakarta lancar2 saja. Tanya2 orang di terminal
Purwakarta, akhirnya naik ojek ke desa Cilalawi. Dari sanaangkot sudah habis (angkot beroperasinya cuma siang dan beberapa kali saja).
Kalo pake ojek harganya 25 rb per orang, tapi karna budget ga cukup, kita
akhirnya memutuskan ga pake ojek. Lagi pula dari desa Cilalawi ke tebing parang
cuma 12 kilo.

 

Cuma
12 kilo?

 

12
kilo jalan kaki?

 
Sebenarnya qt nggak keberatan jalan kaki 12 kilo. Dengan perhitungan jalan
manusia 3 kilo per jam, kita cuma jalan kaki selama 4 jam saja, apa susahnya?
Tapi berhubung lokasi tebing parang kita nggak tw pasti di mana, ini jadi
masalah, sedang kami tak boleh telat ikut upacara besok paginya.

Nah,
awalnya saya ragu. Tapi semangat Ernest (salah satu cewe tangguh di Stapala.
Kita mw usulin dia ke tivi biar buat acara Petualangan Tiga Wanita Berkerudung)
buat jalan kaki, membuat qt yang laki2 tulen juga ga mw kalah. Akhirnya kami
bertiga memutuskan untuk jalan kaki ke tebing parang yang entah di mana
letaknya itu.

 

Ok,
jalan kaki satu jam, masih asyik ngobrol2. Tak dikira bahan obrol2an makin
menipis. Untunglah lewat truk (belakangan kami tw ternyata truk ikan) sebagai
ice breaker. Kami acungkan jempol tanda menumpang. Pak supir yang baik hati setuju
kami menumpang. Ernest “si wanita petualang berkerudung” duduk di depan. Sy
sama Refly melompat di belakang, mencari posisi duduk yang stabil, dan
menikmati pemandangan gelapnya hutan rimbun di kiri kanan kami.

 

Syukur
alhamdulillah, Allah mengirimkan supir yang baik hati (walaupun kekasih yang
baik hati belum dikirimin, ga apa2…) buat lewati hutan lebat itu. Pak supir
ternyata hanya bisa mengantar sampai di desanya saja. Selebihnya kami jalan
kaki lagi.

 

Setelah jalan kaki 1 jam-an, kita ketemu anak2 UNPAD yang lagi KKN. Heu..heu.., kita
ditawari buat nginep di kantor desa di situ, ditawari makan (nasi hangat + ikan
teri + sambel makyus, rasanya nendang banget , yang semuanya disajikan diatas
daun pisang dan digelar di atas tanah), dan ditawari untuk besok pagi diantar
pake motor ke Cibodas (desa terdekat dari tebing) yang jaraknya kira2 3 kilo
dari situ. Dengan sedikit basa-basi kami terima tawaran mereka. Anak2nya
asyik2, yang saya paling ingat sama yang biasa dipanggil Zack (lengkapnya Zack
Al Gebra) oleh kawan2nya. Secara dia anak sastra, bahasanya tingkat tinggi dan
tampaknya jago bikin puisi secara spontan. Trima kasih banyak.

 

Ternyata
ada banyak orang2 yang baik hati yang dikirimkan malam itu (walaupun kekasih
yang baik hati belum dikirimin, ga apa2…)

 

Paginya
setelah sholat subuh, diantar pake motor. Gila, jalannya rusak parah, mana naik
turun lagi. Kami sampai ke Cibodas, hari masih gelap. Ada jalan seukuran lebar mobil
yang kami ikuti. Tampak dari kejauhan siluet Tebing Parang setinggi 300 meter
(data dari internet). Kami lalu mencari2 lokasi upacara, ketemu, dirikan tenda.
Setelah itu tidur! Tapi sayanya doang. Refly sama Ernest penasaran sama itu
tebing, dan terus lanjut mendaki tebing itu, dan belakangan sy nyusul.

 

Upacara
bendera. Benderanya ada dua. Yang satu di lapangan uapcara. Yang satu dipuncak
“twin tower”, puncak tertinggi parang. Bendera kedua ukurannya 10 kali 20
meter. Dengan berat sekitar 120 kilogram. Bendera itu dipasang dua hari
sebelumnya oleh 12 atlet FPTI Jaksel.

 

Setelah gagal menjajal Parang (yang klo diceritain, panjang ceritanya), kami
balik ke Jakarta sore hari. Sampai di
Terminal Purwakarta nggak dapat bus ke Kp. Rambutan. Akhirnya naik yang kearah
UKI. Itupun setelah menunggu sekitar 2 jam-an. Ketemu lagi seorang mahasiswa
baik hati yang mw menunjukkan jalan pulang (berhubung kami bertiga bukan orang Jakarta
yang hapal mati jalan; sy dari Sumbawa, Refly dari
Solok, Sumbar, sedang Ernest dari Semarang
).

Sy
percaya bersama kesulitan, ada kemudahan

 

2. Kejadian kedua waktu mudik kemarin.
Mudik pake backpack cukup besar dan terisi penuh serasa
mendramatisir suasana. Makan di warteg, sebelum ke Pulo Gadung. Ibu empunya warteg nanya2 mau ke mana. Sy bilang: mw balik ke Sumbawa.Ibu itu kaget  mungkin berpikir betapa jauhnya kampong sy dan obrolan berhenti karena sy sibuk dengan makanan saya.

Setelah
bayar makanan, ibu tadi ngeluarin bungkusan yang diam2 dia siapin waktu sy
makan tadi, katanya untuk bekal di jalan dan nggak usah dibayar. Tampak matanya
berkaca2, dia terharu tampaknya. Sy jadi ikutan sedih (padahal dia nggak kenal
saya). Sy sampaikan ucapan terima kasih dan berjanji akan memakan bekal yang
dia berikan.

 

Mm,
awal yang indah. Sy dapat bekal gratis nih. Bekal sederhana dari orang yang tak
kukenal: nasi, orek tempe,
telor, kerupuk, sayur 2 macam, plus pisang 2 buah. Sambil menunggu bus ke
Surabaya di PuloGadung, saya makan itu bekal dan mengirimkan doa untuk ibu yang
baik hati itu.

Nah,
bersama kemudahan, kalo nggak wapada terdapat kesulitan. Sy kena calo.
Bayangkan ke Surabayakena
150 ribu kelas ekonomi dengan kursi dua-tiga, jelas tanpa AC. Tabahlah. Sy
ngomong ke supirnya, dia kasih janji buat nyariin yang eksekutif setelah tiba
di solo nanti. Dan ternyata nggak jadi karna sy bangun setelah bus lewati Solo.
Sukses besar orang2 itu nipu saya. Semoga IP sy naik semester ini ya Allah…

Hati2,
bersama kemudahan, juga ada kesulitan yang mengintai

 

Kalimongso
24 11 2007

“setelah
lama nggak ngeblog”

6 Responses to “Sial atau beruntung?”

  1. Heidy Says:

    Pandainya menulis n mngarang. dasar MELANCOLIS!!!

  2. Black Says:

    Melancolis? oh, itu suzumiya haruhi no yuutsu…

  3. Juna Putra II Says:

    @heidy dan black: melancolis? saya lebih senang melancong, h3

  4. sELLy Says:

    (walaupun kekasih yang baik hati belum dikirimin, ga apa2…)

    cieee,uje…
    mpe 2x gitu nulisnya,
    semangat je…
    -hehehe-

    ^_^
    gerie_813

  5. Heidy Says:

    Iyorae…be nggahi menamu..!! mau mlancong ato kroncong, trserah..

  6. Heidy Says:

    Tunggu dl, masih ada koment buat lo.. ndak nyangka prjalananmu seru abis, kmrn pas baca sy ndak trll srius..

Leave a Reply