Archive for February, 2008

Untuk Sobatku Aztroz

Tuesday, February 26th, 2008

Kamu masih ingat hari-hari kita?

Berdua jelajahi Jakarta

Pagi yang cerah saat kita menyapa Monas

Malam yang dingin saat kita beristirahat di kaki jalan layang

Kau berdiri dengan gagahnya, menemaniku makan jagung bakar.

 

Atau saat kita melaju kencang dari arah Puncak

Bebas, lepas,,,

Yang punya motor, yang punya mobil, biarlah mereka kesal

karna kita salip mereka

Biarkan mereka iri, karena mereka tidak mengerti

 

Ah, begitu tega kamu tinggalkan aku

Mengapa tidak kau tolak orang asing yang mengambilmu?

Membawamu jauh dariku

 

Aku hanya beranjak sebentar

Kau kutinggalkan di luar karena aku ingin mencucimu, membersihkanmu

dari lumpur dan debu yang tersisa dari petualangan kita

Kucarikan ember di dalam, juga lap basah, dan tak lupa telah
kubelikan shampo

Tak sabarkah kamu menunggu?

Hanya dua atau tiga menit saja,,,

 

Sekarang kamu telah pergi

Entah ke mana

 

Aku tahu, kamu pasti mengerti

Betapa sedihnya aku

Dan akupun tahu kamu sendiri tak berdaya

Untuk ke mana-mana; pun kembali kepadaku

 

Ah, biarkan aku mengenang kembali saat-saat itu

Saat kita biasa berkeliling, dengan menyanyi-nyanyi kecil,

Kamulah yang setia mendengar senandungku

Seirama dengan putaran rodamu

Bukankah kita berencana ke Bandung?

Ke Jogja

Ke Surabaya

Kembalilah, biar kita kelilingi Jawa

 

 

Kalimongso, 26
Feb 2008

Aztroz adalah nama sepeda gunung punya posko yang sering
saya pakai ke mana2. Nama lengkapnya: Polygon Aztroz. Hilang di depan posko, 25 Februari 2008,
saat saya tinggalkan sebentar, paling 2-3 menit, saat mencari ember buat cuci itu sepeda.

Siapa yang ambil? Balikin!

susahnya bersikap ramah,,

Monday, February 25th, 2008

Mengapa begitu susah untuk tersenyum?
Hanya senyum saja, tidak lebih.

kalimongso, 25 feb 2008
"Ayo bersepeda!"

seperti kepada dirimu sendiri

Wednesday, February 13th, 2008

Hideyoshi tidak pernah sesedih ini. Padahal, di medan peperangan, nyawa prajurit dan perwira melayang bagaikan daun-daun kering berguguran. Tapi tidak untuk Takenaka Hanbei, guru sekaligus sahabat yang telah pergi untuk selamanya. Biarkanlah air mata ini mengalir, tidak peduli bagi seorang jenderal besar seperti  Toyotomi Hideyoshi.  Belum pernah ada pengikut dan junjungan seperti ini, satu sama lain menganggap pengikut ataupun junjungannya sebagai guru.

Tidak kurang seperti Arai. Lelaki simpai keramat yang begitu ajaib. Adakah sahabatmu yang saat kau bangun tidur kau dapati gula-gula dan mainan ajaib di kantung bajumu? Atau seperti Jimbron, yang dengan segala ketidak peduliannya dari ocehan orang lain membeli dua tabungan berbentuk kuda. Ini tidak sekedar sifat obsesif kompulsif kepada kuda, tapi tentang persaudaraan. Tidak ada yang menyangka bila tabungan berbentuk kuda itu akan dihadiahkan kepada Arai dan Ikal sebelum keberangkatannya mencari Ciputat dengan bening yang menutupi kornea mata: sekolahlah kalian berdua…

Sekali waktu, sebelum berangkat ke Syiria, ‘Umar bin Khatab meminta kepada Bilal , muazin pertama Islam, untuk mengumandangkan azan. Tidak ada yang tahu apa sebab musababnya, sejak kematian Baginda Rasul, lelaki mulia ini menolak untuk berazan. Para pemimpin segera mendatangi beliau, meminta untuk berazan di momen yang khusus itu. Lelaki Afrika yang mulai menua itu setuju, dan ketika suara akrab itu menggema, dengan kualitas yang masih jernih dan nyaring, orang-orang jadi teringat jelas waktu lampau nun jauh di sana ketika Nabi biasa mengimani salat setelah azan Bilal, dan ini membuat seluruh jamaah dan ‘Umar terisak-isak.

Kalimongso, 13 feb 2008
"Terima kasih untuk yang telah membangunkanku tiap dini hari. Baru aku temui seseorang dalam masa belianya mengingat Tuhannya hampir tiap malam"