Archive for March, 2008

lihat yang ini

Sunday, March 30th, 2008

sekarang saya hijrah ke: www.shavaat.wordpress.com

dibuka ya!

.

Thursday, March 20th, 2008

[blank]

Gofrane Bernahem

Saturday, March 15th, 2008

You are what you wear. Ternyata ungkapan ini tidaklah salah. Selesai kuliah, sekali waktu saya ke Gramed, biasa yang dekat saja di Plasa Bintaro. Sedang asyik2 lihat buku, ada ibu yang minta tolong, buat dicarikan kamus Ekonomi.

”Dik, kalau kamus ekonomi di mana ya?”

Secara saya sering ke sini, jadi saya sedikit hafal di mana letak buku berdasarkan kategorinya. Saya antarkan ibu itu di bagian kamus.

”Sebelah sini, Ibu. Cari yang penulisnya siapa?”

”Coba Ibu lihat yang itu…Yang lainnya ada, Dik? Yang paling lengkap”

”Yang ini? Ini sepertinya yang paling tebal. Ini juga”

“Yang mana yang paling bagus? Yang biasanya dibeli orang?”, ternyata kategori bagus menurut ibu ini adalah yang biasa dibeli orang.

”Sebentar, Ibu. Saya tanyakan ke petugasnya dulu”

”Lho? Adik bukan petugas di sini?”

Saya dikira petugas Gramedia. Ini tentu gara-gara seragam kampus ini yang sangat formal, yang mirip-mirip seragam orang yang mau interview buat diterima kerja di sebuah perusahaan asuransi. Dipakainya pun harus benar-benar rapi, jadilah mirip seragam institusi lain, kalaulah bukan Gramedia, mungkin Matahari, Dirjen Imigrasi atau lebih mirip seragamnya Bluebird.

Terkadang, orang jadi semena-mena menganggap orang lain, gara-gara pakaian dan penampilannya, tanpa melihat sinar intelektual seseorang (wuih, bahasanya). Suatu siang saya duduk di dekat gerobak penjual rujak di gerbang Sarmili, salah satu gerbang terkenal dan berlalulintas padat di kampus saya. Karena saya penyuka rujak, jadi tempat ini mungkin jadi salah satu tempat yang sering saya kunjungi. Tiba-tiba, datang mbak-mbak kantoran dengan percaya dirinya memesan sebungkus rujak ke saya, bukan ke penjual rujaknya. ”Pakai mangga sama nanas saja ya, Bang”, katanya sambil kipas-kipas. Tentu saja bapak yang punya gerobak rujak tidak bisa menahan tawa. ”Mas sepertinya cocok jadi penjual rujak kayak saya. He..he..he”, sambil terkekeh-kekeh, tepuk-tepuk bahu. Saya cuma bisa senyam-senyum-masem.

Pengalaman lain waktu main ke sebuah sekretariat mapala di sebuah universitas di Ciledug. Pelajaran penting, di komunitas seperti ini, berpakaian rapi adalah suatu hal yang aneh. Jadi siap-siap nanti ditanya:”Mau ke pengajian ya?”. Saya salah kostum rupanya.

Nah, kalau ke masjid kampus saya sering punya pengalaman kebalikannya. Ke masjid pakai celana tracking dan kaos oblong adalah tindakan yang aneh (biarpun saya tetap bawa sarung dan hem di ransel saya). Jadi siap-siap ditanya lagi:”Kemarin baru naik gunung, Akh?”. Saya salah kostum lagi.

Jadi, intinya, lihat dulu di mana kita berada. Sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Tapi ini repot sebenarnya. Lebih baik berpakaian senyamannya saja. Kalau kita nyaman, tentulah akan terlihat pantas, walaupun ini konklusi pribadi saya.

Sabtu,  15 8 2008


"syukurlah masih belum dikira orang jahat"

cuma gope’ doank

Saturday, March 15th, 2008

Tidak begitu jauh
dari kampus terdapat lapak-lapak para pemulung (ini pernah saya ceritakan di
entri sebelumnya, di ”Timbun Saja Selokan Itu”). Jumlahnya ratusan, terdiri
dari beberapa kumpulan lapak dengan nama yang berbeda, ada Ani Jaya, ada Kiki
Jaya, dll (belakangan saya tahu, Ani, Kiki, ternyata nama anak ketua kelompok
pemulung di situ). Karena terdiri dari ratusan lapak, anak-anak di sana
jumlahnya juga ratusan. Kalau sekali waktu ke sana, akan kita temukan
berupa-rupa anak kecil beserta aktifitasnya: ada yang bermain, mengaji di
musholla atau lapak yang dijadikan tempat mengaji, ada yang memanggul karung
plastik, ada yang berjongkok di selokan, ada yang menangis, ada yang
berlari-lari ke sana kemari, dengan ekspresi khas anak-anak: selalu ceria (yang
menangispun sebentar kemudian tertawa kembali).

 

Mereka ini,
anak-anak pemulung ini, juga bekerja. Yang sudah agak besar, kira-kira kelas
empat SD ke atas, jadi pemulung seperti orang tua mereka. Yang masih
kecil-kecil jadi peminta-minta, biasanya ramai ditemukan,  sejak pagi sampai siang ketika kampus dan
warung-warung makan sedang ramai-ramainya.

 

Buat orang yang
perasa, ekspresi mereka saat meminta-minta benar-benar menyentuh jiwa. Tidak
tega rasanya untuk tidak memberi. Wajah yang memelas, seperti orang yang
rumahnya baru digusur pemerintah kota, dan suara yang lemah, seperti orang yang
tidak makan berhari-hari, serta tangan kecil yang selalu menadah, dengan ujung
jari yang hitam-hitam, membuat orang yang baru saja melihat ini akan terenyuh
hatinya. Namun, sebentar saja uang receh
berpindah ke tangannya, anak-anak kecil itu berubah ekspresinya, ceria kembali
dan melompat-lompat menghampiri teman-temannya, lincah seperti anak kambing yang baru saja melihat dunia.

 

Seorang kawan
mengatakan, jangan terbiasa memberi sesuatu kepada mereka, ini membuat mereka
jadi manja. Padahal betapa susahnya mencari uang itu. Saya makfum, kawan saya
itu, dengan selalu bekerja keras mencari uang: mengajar les priwat berkali-kali
seminggu, tentu mengerti susahnya mencari uang.
Namun, kawan saya yang lain mengatakan, berikan
saja, toh Rasulullah mengajarkan seperti itu.

 

Saya ingat sabda
Rasulullah yang mengatakan, jangan tidak memberikan sesuatu kepada
peminta-minta, walaupun itu sekeping tembikar. Intinya, kalau ada
peminta-minta, jangan sampai kita tidak memberi apa-apa. Di sisi lain, Rasulullah
mengatakan, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Artinya kita
dilarang menjadi peminta-minta. Sebuah kisah menceritakan bagaimana seorang Sahabat
pantang menerima belas kasihan, cukup ditunjukan di mana pasar, sebagai tempat
dia mencari rejekinya.

 

Orang-orang ahli
di pemerintahan mencoba merumuskan aturan tentang ini, seperti Perda Pengemis
di DKI Jakarta yang melarang orang memberikan sesuatu kepada peminta-minta. Tentu
dasarnya agar para pengemis ini tidak lagi bekerja sebagai pengemis karena
meminta-minta tidak prospektif lagi, kemudian mencari pekerjaan lain atau
pulang kampung kembali. Namun, Perda ini tentu saja tidak berjalan lancar, dan
para ahlipun bingung kembali, antara kewajiban mereka untuk mensejahterakan
rakyat dan tuduhan bahwa mereka melemparkan kewajiban itu ke masyarakat dengan
mengeluarkan Perda tersebut.

 

Buat kita, orang
awam, tidak perlulah bingung dan pening memikirkan ini. Saya pikir, selama kita
mampu, toh tidak ada salahnya memberikan seratus dua ratus rupiah, ribuan rupiah
atau puluhan ribu tergantung diri kita masing-masing. Bukan kita memanjakan
mereka, bukan pula menjadikan mereka semata-mata sebagai objek amal infak dan
sedekah kita.

 

Mungkin efeknya
akan buruk. Benar, ini akan membuat mereka menjadi manja. Pernah saya tanyakan
kepada ibu-ibu pengemis yang merangkap sebagai pemulung di Terminal Blok M,
dengan dibantu dua anak kecilnya, penghasilan mereka sehari bisa 50 sampai 70
ribu rupiah. Busyet. Saya yang bila ujian di kampus harus belajar jungkir
balik, dan mungkin akan menjadi PNS dengan nametag berkilau-kilau—yang membuat
para pengusaha takut, penghasilannya beda-beda tipis dengan pengemis ini. Tentu
saja ini akan membuat hidup mereka begitu-begitu saja, karena mereka telah
nyaman dengan keadaan seperti itu.

 

Benar juga bila
ini sama halnya membuat mereka tidak mandiri. Mereka jadi bergantung pada belas
kasihan kepada orang lain. Namun, jujur, saya tidak mampu memberikan dan
menciptakan kail untuk mereka, saya hanya mampu memberikan ikan, itupun kecil
saja. Daripada tidak memberikan sesuatu dan berkerut-kerut dahi untuk dongkol
kepada mereka yang mudahnya mendapatkan uang, mending beri saja. Seperti
kata-kata andalan mereka: seribu-dua ribu perak tidak akan membuat kita jatuh
miskin. Lagipula, kita mungkin tidak sanggup bila berada dalam posisi mereka,
dalam kemiskinan, masa depan yang tidak jelas, pendidikan yang tidak teraih, kehidupan
yang monoton, bekerja sepanjang hidup, dan tidak punya harapan.

 

Sabtu 15 3 2008

"trims :)"

sederhana saja

Friday, March 14th, 2008

Setelah 2 tahun lebih tinggal di kota besar seperti ini, saya jadi sangat rindu kampung halaman. Dari sekian banyak kerinduan ini: terhadap rumah, terhadap orang tua dan adik tersayang, tentang pantai berpasir putih, tentang langit cerah tak terkira, satu saja yang ingin saya tuliskan sekarang: tentang kesederhanaan. Sebuah sifat khas warga kampung yang merasa cukup akan segala sesuatu; tak berlebih-lebihan; dan bersyukur akan segala karunia Ruma Ratala*.

Sekali waktu, dengan segala sifat kekampungan saya, saya katakan pada kawan saya: tidak ada yang lebih nikmat dibandingkan minum teh dan menikmati sepotong pisang goreng hangat, ketika kawan saya itu berkeras mengantri untuk beberapa potong roti–dibuat di tempat–bermerek terkenal dari Singapura. Selain malas berdiri menunggu sambil melawan aroma roti yang bikin lapar, kata-kata itu memang lahir dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Tidak ada yang lebih nikmat dari teh dan sepotong pisang goreng hangat. Pagi-pagi, saya sempatkan bikin teh hangat, atau kalau tidak pesan di warung. Siang-siang, sangat nikmat minum es teh yang benar-benar dingin (kriteria benar-benar dingin: masih tersisa batu es ketika air teh habis). Kalau makan di luar, teh tetap tak tergantikan oleh minuman-minuman bernama aneh-aneh, berlapis-lapis yang hampir tumpah dari bibir gelas.

Di gunung, minum teh hangat adalah hal yang begitu menentramkan jiwa, sambil menikmati pemandangan lembah, bukit-bukit, pohon-pohon, bunga-bunga, serta langit  yang sangat menabjubkan. Jika ada yang mengatakan, minum alkohol di atas gunung dengan udaranya yang sanagt dingin adalah sangat nikmat, saya adalah satu dari banyak orang yang tidak setuju. Sedang, jangankan yang jelas beralkohol, yang zero-pun tidak berani saya icip. Saya memang kampungan.

Mungkin ini benar-benar pengaruh dari kampung. Yang seperti ini yang saya rindukan. Tak perlu berlebih-lebihan. Orang kampung mungkin tidak cocok untuk hidup berlebih-lebihan. Cukup tercukupi saja.

Sabtu, 15 3 08
"dari sekian banyak merek teh kemasan, teh botol tetap yang paling nikmat"

ket:
*) Ruma Ratala, adalah sebutan orang Dompu/Bima bagi Allah Subhanahuwataala