cuma gope’ doank

Tidak begitu jauh
dari kampus terdapat lapak-lapak para pemulung (ini pernah saya ceritakan di
entri sebelumnya, di ”Timbun Saja Selokan Itu”). Jumlahnya ratusan, terdiri
dari beberapa kumpulan lapak dengan nama yang berbeda, ada Ani Jaya, ada Kiki
Jaya, dll (belakangan saya tahu, Ani, Kiki, ternyata nama anak ketua kelompok
pemulung di situ). Karena terdiri dari ratusan lapak, anak-anak di sana
jumlahnya juga ratusan. Kalau sekali waktu ke sana, akan kita temukan
berupa-rupa anak kecil beserta aktifitasnya: ada yang bermain, mengaji di
musholla atau lapak yang dijadikan tempat mengaji, ada yang memanggul karung
plastik, ada yang berjongkok di selokan, ada yang menangis, ada yang
berlari-lari ke sana kemari, dengan ekspresi khas anak-anak: selalu ceria (yang
menangispun sebentar kemudian tertawa kembali).

 

Mereka ini,
anak-anak pemulung ini, juga bekerja. Yang sudah agak besar, kira-kira kelas
empat SD ke atas, jadi pemulung seperti orang tua mereka. Yang masih
kecil-kecil jadi peminta-minta, biasanya ramai ditemukan,  sejak pagi sampai siang ketika kampus dan
warung-warung makan sedang ramai-ramainya.

 

Buat orang yang
perasa, ekspresi mereka saat meminta-minta benar-benar menyentuh jiwa. Tidak
tega rasanya untuk tidak memberi. Wajah yang memelas, seperti orang yang
rumahnya baru digusur pemerintah kota, dan suara yang lemah, seperti orang yang
tidak makan berhari-hari, serta tangan kecil yang selalu menadah, dengan ujung
jari yang hitam-hitam, membuat orang yang baru saja melihat ini akan terenyuh
hatinya. Namun, sebentar saja uang receh
berpindah ke tangannya, anak-anak kecil itu berubah ekspresinya, ceria kembali
dan melompat-lompat menghampiri teman-temannya, lincah seperti anak kambing yang baru saja melihat dunia.

 

Seorang kawan
mengatakan, jangan terbiasa memberi sesuatu kepada mereka, ini membuat mereka
jadi manja. Padahal betapa susahnya mencari uang itu. Saya makfum, kawan saya
itu, dengan selalu bekerja keras mencari uang: mengajar les priwat berkali-kali
seminggu, tentu mengerti susahnya mencari uang.
Namun, kawan saya yang lain mengatakan, berikan
saja, toh Rasulullah mengajarkan seperti itu.

 

Saya ingat sabda
Rasulullah yang mengatakan, jangan tidak memberikan sesuatu kepada
peminta-minta, walaupun itu sekeping tembikar. Intinya, kalau ada
peminta-minta, jangan sampai kita tidak memberi apa-apa. Di sisi lain, Rasulullah
mengatakan, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Artinya kita
dilarang menjadi peminta-minta. Sebuah kisah menceritakan bagaimana seorang Sahabat
pantang menerima belas kasihan, cukup ditunjukan di mana pasar, sebagai tempat
dia mencari rejekinya.

 

Orang-orang ahli
di pemerintahan mencoba merumuskan aturan tentang ini, seperti Perda Pengemis
di DKI Jakarta yang melarang orang memberikan sesuatu kepada peminta-minta. Tentu
dasarnya agar para pengemis ini tidak lagi bekerja sebagai pengemis karena
meminta-minta tidak prospektif lagi, kemudian mencari pekerjaan lain atau
pulang kampung kembali. Namun, Perda ini tentu saja tidak berjalan lancar, dan
para ahlipun bingung kembali, antara kewajiban mereka untuk mensejahterakan
rakyat dan tuduhan bahwa mereka melemparkan kewajiban itu ke masyarakat dengan
mengeluarkan Perda tersebut.

 

Buat kita, orang
awam, tidak perlulah bingung dan pening memikirkan ini. Saya pikir, selama kita
mampu, toh tidak ada salahnya memberikan seratus dua ratus rupiah, ribuan rupiah
atau puluhan ribu tergantung diri kita masing-masing. Bukan kita memanjakan
mereka, bukan pula menjadikan mereka semata-mata sebagai objek amal infak dan
sedekah kita.

 

Mungkin efeknya
akan buruk. Benar, ini akan membuat mereka menjadi manja. Pernah saya tanyakan
kepada ibu-ibu pengemis yang merangkap sebagai pemulung di Terminal Blok M,
dengan dibantu dua anak kecilnya, penghasilan mereka sehari bisa 50 sampai 70
ribu rupiah. Busyet. Saya yang bila ujian di kampus harus belajar jungkir
balik, dan mungkin akan menjadi PNS dengan nametag berkilau-kilau—yang membuat
para pengusaha takut, penghasilannya beda-beda tipis dengan pengemis ini. Tentu
saja ini akan membuat hidup mereka begitu-begitu saja, karena mereka telah
nyaman dengan keadaan seperti itu.

 

Benar juga bila
ini sama halnya membuat mereka tidak mandiri. Mereka jadi bergantung pada belas
kasihan kepada orang lain. Namun, jujur, saya tidak mampu memberikan dan
menciptakan kail untuk mereka, saya hanya mampu memberikan ikan, itupun kecil
saja. Daripada tidak memberikan sesuatu dan berkerut-kerut dahi untuk dongkol
kepada mereka yang mudahnya mendapatkan uang, mending beri saja. Seperti
kata-kata andalan mereka: seribu-dua ribu perak tidak akan membuat kita jatuh
miskin. Lagipula, kita mungkin tidak sanggup bila berada dalam posisi mereka,
dalam kemiskinan, masa depan yang tidak jelas, pendidikan yang tidak teraih, kehidupan
yang monoton, bekerja sepanjang hidup, dan tidak punya harapan.

 

Sabtu 15 3 2008

"trims :)"

3 Responses to “cuma gope’ doank”

  1. Maisyah Says:

    Misalkan ada pengemis meminta bukan u/ kebaikan (memenuhi kebutuhan hidupnya, ex: makan, dll..)tp u/ kemaksiatan (membeli roko, berjudi, dll..), gmn hukumnya? karena bnyk fenomena spt itu skarang apa lg d kota2 besar(tidak semuanya).
    (mohon jawabannya hal ini jgn di kaitkan dgn niat kita)

  2. Shavaat Says:

    menurut saya (ini menurut saya pribadi), sepanjang kita tidak tahu ya tidak apa-apa. Klo kita tahu itu jelas2 mw di pake bwt mabok, artinya klo kita kasih sama halnya membantu dia buat mabok,,
    tapi klo nggak tahu ya,,, berpikir positif saja, yang kita kasih buat makan minum dia

  3. Maisyah Says:

    Serba salah juga jadinya

Leave a Reply