Gofrane Bernahem

You are what you wear. Ternyata ungkapan ini tidaklah salah. Selesai kuliah, sekali waktu saya ke Gramed, biasa yang dekat saja di Plasa Bintaro. Sedang asyik2 lihat buku, ada ibu yang minta tolong, buat dicarikan kamus Ekonomi.

”Dik, kalau kamus ekonomi di mana ya?”

Secara saya sering ke sini, jadi saya sedikit hafal di mana letak buku berdasarkan kategorinya. Saya antarkan ibu itu di bagian kamus.

”Sebelah sini, Ibu. Cari yang penulisnya siapa?”

”Coba Ibu lihat yang itu…Yang lainnya ada, Dik? Yang paling lengkap”

”Yang ini? Ini sepertinya yang paling tebal. Ini juga”

“Yang mana yang paling bagus? Yang biasanya dibeli orang?”, ternyata kategori bagus menurut ibu ini adalah yang biasa dibeli orang.

”Sebentar, Ibu. Saya tanyakan ke petugasnya dulu”

”Lho? Adik bukan petugas di sini?”

Saya dikira petugas Gramedia. Ini tentu gara-gara seragam kampus ini yang sangat formal, yang mirip-mirip seragam orang yang mau interview buat diterima kerja di sebuah perusahaan asuransi. Dipakainya pun harus benar-benar rapi, jadilah mirip seragam institusi lain, kalaulah bukan Gramedia, mungkin Matahari, Dirjen Imigrasi atau lebih mirip seragamnya Bluebird.

Terkadang, orang jadi semena-mena menganggap orang lain, gara-gara pakaian dan penampilannya, tanpa melihat sinar intelektual seseorang (wuih, bahasanya). Suatu siang saya duduk di dekat gerobak penjual rujak di gerbang Sarmili, salah satu gerbang terkenal dan berlalulintas padat di kampus saya. Karena saya penyuka rujak, jadi tempat ini mungkin jadi salah satu tempat yang sering saya kunjungi. Tiba-tiba, datang mbak-mbak kantoran dengan percaya dirinya memesan sebungkus rujak ke saya, bukan ke penjual rujaknya. ”Pakai mangga sama nanas saja ya, Bang”, katanya sambil kipas-kipas. Tentu saja bapak yang punya gerobak rujak tidak bisa menahan tawa. ”Mas sepertinya cocok jadi penjual rujak kayak saya. He..he..he”, sambil terkekeh-kekeh, tepuk-tepuk bahu. Saya cuma bisa senyam-senyum-masem.

Pengalaman lain waktu main ke sebuah sekretariat mapala di sebuah universitas di Ciledug. Pelajaran penting, di komunitas seperti ini, berpakaian rapi adalah suatu hal yang aneh. Jadi siap-siap nanti ditanya:”Mau ke pengajian ya?”. Saya salah kostum rupanya.

Nah, kalau ke masjid kampus saya sering punya pengalaman kebalikannya. Ke masjid pakai celana tracking dan kaos oblong adalah tindakan yang aneh (biarpun saya tetap bawa sarung dan hem di ransel saya). Jadi siap-siap ditanya lagi:”Kemarin baru naik gunung, Akh?”. Saya salah kostum lagi.

Jadi, intinya, lihat dulu di mana kita berada. Sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Tapi ini repot sebenarnya. Lebih baik berpakaian senyamannya saja. Kalau kita nyaman, tentulah akan terlihat pantas, walaupun ini konklusi pribadi saya.

Sabtu,  15 8 2008


"syukurlah masih belum dikira orang jahat"

Leave a Reply