sederhana saja

Setelah 2 tahun lebih tinggal di kota besar seperti ini, saya jadi sangat rindu kampung halaman. Dari sekian banyak kerinduan ini: terhadap rumah, terhadap orang tua dan adik tersayang, tentang pantai berpasir putih, tentang langit cerah tak terkira, satu saja yang ingin saya tuliskan sekarang: tentang kesederhanaan. Sebuah sifat khas warga kampung yang merasa cukup akan segala sesuatu; tak berlebih-lebihan; dan bersyukur akan segala karunia Ruma Ratala*.

Sekali waktu, dengan segala sifat kekampungan saya, saya katakan pada kawan saya: tidak ada yang lebih nikmat dibandingkan minum teh dan menikmati sepotong pisang goreng hangat, ketika kawan saya itu berkeras mengantri untuk beberapa potong roti–dibuat di tempat–bermerek terkenal dari Singapura. Selain malas berdiri menunggu sambil melawan aroma roti yang bikin lapar, kata-kata itu memang lahir dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Tidak ada yang lebih nikmat dari teh dan sepotong pisang goreng hangat. Pagi-pagi, saya sempatkan bikin teh hangat, atau kalau tidak pesan di warung. Siang-siang, sangat nikmat minum es teh yang benar-benar dingin (kriteria benar-benar dingin: masih tersisa batu es ketika air teh habis). Kalau makan di luar, teh tetap tak tergantikan oleh minuman-minuman bernama aneh-aneh, berlapis-lapis yang hampir tumpah dari bibir gelas.

Di gunung, minum teh hangat adalah hal yang begitu menentramkan jiwa, sambil menikmati pemandangan lembah, bukit-bukit, pohon-pohon, bunga-bunga, serta langit  yang sangat menabjubkan. Jika ada yang mengatakan, minum alkohol di atas gunung dengan udaranya yang sanagt dingin adalah sangat nikmat, saya adalah satu dari banyak orang yang tidak setuju. Sedang, jangankan yang jelas beralkohol, yang zero-pun tidak berani saya icip. Saya memang kampungan.

Mungkin ini benar-benar pengaruh dari kampung. Yang seperti ini yang saya rindukan. Tak perlu berlebih-lebihan. Orang kampung mungkin tidak cocok untuk hidup berlebih-lebihan. Cukup tercukupi saja.

Sabtu, 15 3 08
"dari sekian banyak merek teh kemasan, teh botol tetap yang paling nikmat"

ket:
*) Ruma Ratala, adalah sebutan orang Dompu/Bima bagi Allah Subhanahuwataala

2 Responses to “sederhana saja”

  1. ernestina Says:

    sederhana ya, bro..
    Disini (Liwa) rasanya lebih dari sekedar istimewa.
    Harga teh panas di gelas belimbing Rp. 2.500,-
    Disini hidup adanya apa, bukan lagi apa adanya, hehe..

    Nest817/SPA/2007

  2. Shavaat Says:

    adanya apa? he3

    tapi, bukannya udah pernah yang lebih parah Nez?
    makan dua sendok nasi sehari, di hutan.
    makan pakis, batang pinang, bonggol pisang.
    apalagi coba,,”adanya apa” di hutan itu, itu yang dimakan, h3

Leave a Reply